Daftar Kebiasaan Pagi yang Menyebabkan Brain Fog dan Cara Menghindarinya

Banyak orang sering merasa bingung atau sulit berkonsentrasi tepat setelah bangun tidur. Fenomena ini bukan sekadar rasa kantuk biasa, melainkan kondisi yang sering disebut sebagai brain fog atau kabut otak.
Kondisi ini membuat seseorang merasa lamban saat memulai rutinitas harian, baik itu bekerja maupun menempuh pendidikan. Jika Anda sering merasakan hal serupa, bisa jadi penyebabnya adalah rutinitas pagi yang keliru.
Kebiasaan pertama yang perlu diwaspadai adalah langsung memeriksa ponsel sesaat setelah membuka mata. Tindakan ini menuntut otak untuk segera memproses berbagai informasi secara intens dari media sosial maupun pesan masuk.
Sebuah studi yang dimuat dalam jurnal Scientific Reports melalui PubMed menunjukkan bahwa penggunaan gawai selama 45 menit dapat meningkatkan kelelahan mental. Selain itu, kebiasaan ini juga menurunkan tingkat kewaspadaan serta kemampuan inhibisi atau pengendalian diri seseorang.
Kedua, mengabaikan asupan nutrisi di pagi hari juga dapat memicu penurunan fungsi kognitif. Sarapan memberikan pasokan energi yang dibutuhkan tubuh setelah berpuasa selama beberapa jam saat tidur malam.
Penelitian dari PubMed mencatat bahwa individu yang sarapan memiliki keunggulan konsisten pada aspek memori. Anda tidak perlu menyantap porsi besar, cukup pilih makanan bergizi ringan untuk menjaga kestabilan fokus hingga siang hari.
Ketiga, kurangnya paparan cahaya alami dan dehidrasi menjadi faktor pendukung brain fog. Setelah bangun, cobalah segera membuka tirai atau keluar ruangan agar tubuh terpapar cahaya matahari pagi yang meningkatkan kewaspadaan.
Minum segelas air putih juga sangat diperlukan guna memastikan tubuh terhidrasi dengan baik. PubMed menjelaskan bahwa kondisi kurang cairan berkaitan langsung dengan perubahan pada fungsi perhatian dan kemampuan kognitif otak.
Keempat, bangun tidur secara mendadak atau terlalu cepat sering menyebabkan sleep inertia. Kondisi ini merupakan fase transisi saat seseorang merasa pusing dan sulit berpikir jernih sesaat setelah terbangun dari tidur.
Rasa ini biasanya akan berkurang seiring berjalannya waktu setelah bangun tidur. Namun, gejala ini akan terasa jauh lebih berat jika Anda mengalami kurang tidur atau terbangun secara paksa dari fase tidur yang dalam.
Kelima, kurangnya aktivitas fisik di awal hari dapat membuat otak terasa blank. Cobalah melakukan gerakan ringan seperti peregangan atau sekadar berjalan kaki di sekitar rumah agar aliran darah lebih lancar.
Terakhir, hindari konsumsi makanan atau minuman tinggi gula secara berlebihan sebagai menu sarapan utama. Kandungan gula yang terlalu tinggi dalam menu pagi hari memiliki kaitan dengan risiko gangguan kognitif jangka panjang.
Gantilah menu tersebut dengan asupan kaya protein dan serat untuk menjaga kesehatan otak. Perubahan kecil pada rutinitas pagi akan membantu Anda menjalani hari dengan pikiran yang lebih jernih dan tajam.
Baca juga tulisan lainnya dari Rizky Pratama
Penulis: Rizky Pratama
Editor: Beritana Editor








