Kemenkes Laporkan 1.527 Kasus Influenza, DKI Jakarta Catat Angka Tertinggi

Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 1.527 kasus positif influenza terdeteksi di seluruh wilayah Indonesia sepanjang tahun 2026 hingga pekan ke-38.
Data tersebut mencakup akumulasi temuan dari berbagai fasilitas pelayanan kesehatan yang tersebar di seluruh provinsi. Berdasarkan sebaran wilayahnya, DKI Jakarta menempati posisi teratas sebagai daerah dengan jumlah kasus terbanyak, disusul oleh Jawa Barat dan Banten.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menjelaskan bahwa dominasi virus didominasi oleh subtipe influenza A H1N1 PDM09. Selain itu, ditemukan pula varian influenza A H3N2 serta tipe B Victoria dalam surveilans yang dilakukan pemerintah.
Andi mengungkapkan data tersebut dalam konferensi pers di Jakarta pada Senin, 28 September 2026. Angka tersebut tercatat lebih rendah jika dibandingkan dengan total temuan pada tahun 2025 yang mencapai 2.790 kasus.
Tren peningkatan justru terlihat pada proporsi kasus positif di tingkat fasilitas kesehatan dalam satu pekan terakhir. Data dari 35 rumah sakit sentinel yang menangani kasus infeksi saluran pernapasan akut menunjukkan lonjakan angka positif menjadi 53 persen, dari yang sebelumnya hanya sebesar 28 persen.
Kondisi serupa terjadi pada layanan primer di 39 puskesmas sentinel, di mana tingkat positif influenza naik menjadi 59 persen dibandingkan pekan sebelumnya yang mencapai 54 persen. Pemerintah menilai tingkat aktivitas ini masih dalam batas kategori sedang dan sesuai dengan pola musiman yang lazim terjadi di Indonesia.
Di luar pantauan influenza umum, otoritas kesehatan juga tengah memantau penyebaran influenza A H3N2 subclade K yang dikenal dengan sebutan super flu. Hingga minggu ke-38 tahun 2026, varian tersebut telah teridentifikasi di 20 provinsi, dengan konsentrasi sebaran tertinggi di DKI Jakarta, Kalimantan Selatan, dan Jawa Timur.
Catatan medis menunjukkan bahwa anak-anak merupakan kelompok paling rentan terhadap varian tersebut. Data menunjukkan terdapat delapan kasus masing-masing pada rentang usia 0 hingga 4 tahun dan 5 hingga 9 tahun. Sementara itu, kelompok usia remaja antara 10 hingga 17 tahun menyumbang lima kasus, dengan satu kasus sisanya ditemukan pada kelompok dewasa usia 18 hingga 59 tahun.
Pihak Kemenkes berkomitmen untuk terus memantau perkembangan pola penyebaran virus melalui mekanisme surveilans yang diperketat di seluruh rumah sakit maupun puskesmas. Langkah ini ditempuh guna memastikan kesiapan penanganan medis tetap terjaga dan sesuai dengan standar kesehatan nasional meskipun situasi saat ini dinyatakan masih dalam kategori terkendali.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor









