Sebanyak 500 partisipan telah terlibat dalam pengujian awal yang menggunakan metode serupa dengan tes Schirmer untuk penderita mata kering. Kertas khusus diletakkan di bawah kelopak mata selama sepuluh menit untuk menyerap cairan, yang kemudian dianalisis kandungan protein dan informasi biologis di dalamnya.
Meskipun hasil awal menunjukkan akurasi yang menjanjikan, Hamerlik menegaskan bahwa metode ini masih memerlukan waktu sekitar satu dekade sebelum bisa diterapkan secara klinis. Tim peneliti kini tengah melaksanakan studi validasi besar bernama INFORM yang melibatkan pasien dari berbagai negara, termasuk Inggris, Jerman, hingga Swedia.
Tujuan utama dari pengembangan metode ini bukanlah untuk menggantikan pemeriksaan MRI yang sudah menjadi standar emas saat ini. Sebaliknya, tes air mata dirancang sebagai instrumen triase yang cepat untuk mempercepat alur diagnosis bagi pasien yang memiliki indikasi neurologis mencurigakan.
Para ilmuwan tetap menjaga kehati-hatian agar metode ini memiliki spesifikasi tinggi sehingga tidak terjadi salah diagnosa antara tumor otak dengan kondisi neurologis lainnya. Jika validasi klinis tercapai, teknik pengambilan sampel air mata ini diharapkan dapat menjadi terobosan medis yang memberikan harapan baru bagi jutaan orang di seluruh dunia.