Memahami Risiko Penularan HPV Dua Arah pada Pria dan Wanita

Human Papillomavirus atau HPV selama ini keliru dipahami sebagai virus yang hanya menyerang perempuan, padahal penularannya dapat terjadi secara dua arah antara pria dan wanita.
Dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika Yudo Irawan menyatakan bahwa infeksi HPV sering kali tidak menimbulkan gejala klinis sehingga seseorang mungkin membawa virus tersebut tanpa menyadarinya. Kondisi ini membuat upaya deteksi dini menjadi tantangan besar dalam memutus rantai penularan di masyarakat.
Dalam keterangan yang disampaikan pada Kamis (24/9), Yudo menjelaskan bahwa HPV memiliki mekanisme transmisi yang berbeda dengan virus HIV. HPV menyebar melalui kontak kulit secara langsung atau melalui benda terkontaminasi yang disebut fomites, terutama ketika terdapat luka kecil pada permukaan kulit atau saat imunitas tubuh sedang menurun.
Seseorang tidak secara otomatis terinfeksi hanya karena menyentuh permukaan benda, namun risiko transmisi meningkat drastis jika virus masuk melalui celah kulit yang terbuka. Yudo menegaskan bahwa HPV lebih mengutamakan infeksi pada jaringan kulit dan selaput lendir ketimbang jalur cairan tubuh.
Peran laki-laki sebagai pembawa atau carrier dalam siklus hidup virus ini sering kali menjadi sorotan dalam diskusi kesehatan reproduksi. Laki-laki kerap menjadi sumber penularan HPV kepada pasangan perempuan yang kemudian memicu risiko kanker serviks akibat infeksi virus yang menetap di leher rahim.
Pola penyebaran virus ini tidak bersifat searah dari laki-laki ke perempuan saja. Perempuan juga dapat berperan sebagai pihak yang menularkan virus kepada pasangannya, sehingga kewaspadaan harus dimiliki oleh kedua belah pihak tanpa memandang gender.
Gejala fisik seperti kutil kelamin tidak selalu muncul sesaat setelah seseorang terpapar oleh virus. Infeksi HPV dapat bersifat laten dan menetap dalam tubuh untuk jangka waktu lama sebelum akhirnya memicu perubahan seluler atau munculnya kutil di area genital, anus, maupun tenggorokan.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mencatat bahwa perubahan sel prakanker pada leher rahim umumnya tidak menunjukkan keluhan atau gejala sama sekali pada fase awal. Hal tersebut mendasari urgensi pemeriksaan kesehatan rutin sebagai langkah mitigasi yang paling efektif bagi mereka yang aktif secara seksual.
CDC menyarankan masyarakat untuk segera melakukan konsultasi medis apabila menemukan tanda yang tidak lazim pada tubuh. Indikator pemeriksaan meliputi pertumbuhan benjolan yang tidak biasa, luka di sekitar area genital atau mulut, serta adanya kekhawatiran khusus pascapaparan seksual yang berisiko.
Keberadaan kutil dengan bentuk bervariasi, mulai dari benjolan kecil hingga menyerupai kembang kol, merupakan salah satu indikasi yang mengharuskan seseorang mencari bantuan tenaga profesional. Diagnosis yang tepat akan membantu pasien mendapatkan penanganan sebelum infeksi berkembang ke tahap yang lebih serius.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor













