Harga Minyak Brent Tembus 110 Dolar AS per Barel Akibat Konflik Timur Tengah

Harga minyak mentah dunia kembali mencatatkan kenaikan signifikan pada perdagangan Selasa, 20 Oktober 2026, menyusul meningkatnya risiko geopolitik yang membayangi kawasan Timur Tengah.
Minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman Desember 2026 terpantau naik 55 sen atau 0,50 persen menjadi USD 110,10 (sekitar Rp1,71 juta) per barel pada pukul 11.00 WIB.
Penguatan ini terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global. Pemicunya adalah serangan kelompok Houthi terhadap infrastruktur strategis di Arab Saudi serta laporan mengenai insiden keamanan yang melibatkan kapal tanker di kawasan Teluk.
Situasi tersebut memicu kecemasan investor mengenai potensi hambatan arus distribusi minyak mentah dari kawasan penghasil energi utama dunia.
Sebelum menyentuh posisi tersebut, harga minyak acuan Brent sempat menyentuh level tertinggi sejak 20 Mei di angka USD 110,70 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI untuk kontrak pengiriman November 2026 mencatatkan kenaikan 0,24 persen menjadi USD 103,91 per barel.
Perlu diketahui, WTI merupakan jenis minyak mentah yang menjadi acuan harga utama di Amerika Serikat dan pasar energi global. Kontrak November sendiri berakhir pada Selasa, sementara kontrak Desember yang lebih aktif diperdagangkan menguat 39 sen ke posisi USD 98,93 per barel.
Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menyoroti peluang keberlanjutan tren penguatan harga WTI setelah aset komoditas ini sukses menembus level resistensi minor pada grafik mingguan.
Walaupun sempat mengalami pelemahan saat pembukaan pasar hingga menyentuh USD 104 per barel, harga kembali terkoreksi ke area USD 96,54.
Geraldo menjelaskan bahwa level USD 96,54 kini berfungsi sebagai area penopang harga atau support yang krusial bagi pergerakan WTI selanjutnya.
Jika harga mampu bertahan di sekitar level tersebut dan memperoleh dorongan beli, WTI berpeluang melanjutkan kenaikan menuju target resistensi berikutnya di angka USD 106,61.
Di luar faktor teknikal, pasar saat ini juga sedang memantau wacana pelonggaran sanksi Amerika Serikat terhadap ekspor energi Rusia.
Jika kebijakan tersebut benar-benar diterapkan, tambahan pasokan minyak dari Rusia berpotensi menambah tekanan jual di pasar global.
Kondisi ini dapat menjadi penyeimbang bagi kenaikan harga yang saat ini didorong kuat oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Geraldo mengingatkan agar pelaku pasar tetap waspada jika terjadi penurunan di bawah level USD 96,54 karena dapat melemahkan sinyal kenaikan sebelumnya.
Eskalasi konflik di Timur Tengah akan tetap menjadi penentu utama dalam jangka pendek.
Potensi gangguan jalur distribusi energi akibat konflik bersenjata terus menjaga harga minyak agar tidak turun lebih dalam di tengah sentimen pasar yang fluktuatif.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor










