Runtuhnya Silicon Valley Bank Soroti Kesenjangan Akses Modal bagi Pengusaha Kulit Berwarna

Runtuhnya Silicon Valley Bank (SVB) bulan lalu menyisakan kecemasan mendalam bagi para pengusaha dari komunitas minoritas di Amerika Serikat. Arlan Hamilton, seorang pemodal ventura, segera turun tangan membantu para pendiri usaha yang panik karena akses mereka terhadap dana operasional terancam terputus.
SVB selama ini dikenal sebagai bank yang inklusif terhadap komunitas yang kurang terwakili dalam dunia bisnis. Kegagalan bank yang berdiri sejak 1983 tersebut kini memicu perdebatan luas mengenai praktik diskriminasi dalam penyaluran kredit perbankan.
Hamilton menggambarkan posisi pengusaha dari kelompok minoritas seperti berada di dalam rumah yang lebih kecil dengan struktur bangunan yang rapuh. Ketika badai ekonomi datang, mereka menjadi pihak yang paling terdampak dan mengalami kerugian paling berat.
Data dari Small Business Credit Survey menunjukkan kesenjangan nyata dalam penerimaan pinjaman. Pada 2021, hanya sekitar 16 persen perusahaan yang dipimpin pengusaha kulit hitam berhasil mendapatkan pendanaan bank secara utuh, jauh di bawah capaian perusahaan milik pengusaha kulit putih yang mencapai 35 persen.
Para pengusaha minoritas dan imigran sering beralih ke bank regional karena kerap ditolak oleh empat bank terbesar di Amerika Serikat. Asya Bradley, seorang pendiri perusahaan teknologi, menyebut bahwa ia bahkan harus meminta saudaranya menjadi penjamin agar bisa membuka rekening bisnis di salah satu bank besar tersebut.
Kini, para pelaku usaha berharap ekosistem perbankan dapat mengambil pelajaran dari ketiadaan SVB agar akses pendanaan bagi kelompok yang terabaikan tetap terjaga. Harapan besar ditumpukan pada inovasi bank regional dan perusahaan teknologi finansial untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh bank tersebut.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update
Penulis: Beritana Update
Editor: Beritana Editor













