Serangan Houthi di Laut Merah Ancam Yaman Kembali ke Konflik Penuh

Kelompok Houthi yang didukung Iran terus meningkatkan tekanan terhadap Arab Saudi melalui serangkaian serangan di kawasan strategis. Aksi mereka berisiko menyeret Yaman kembali ke dalam konflik skala penuh sekaligus mengganggu jalur pelayaran vital di Laut Merah.
Situasi di Yaman memang kian memburuk, di mana negara itu terancam kembali ke pusaran konflik berskala besar. Senin lalu, milisi Houthi dilaporkan menyerang sebuah kapal tanker minyak mentah di Laut Merah, di lepas pantai Arab Saudi.
Insiden ini bukan yang pertama. Serangan sebelumnya menargetkan infrastruktur minyak Arab Saudi dan beberapa kapal lain di Selat Bab el-Mandeb yang berdekatan. Jalur perairan ini menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden, berfungsi sebagai rute alternatif ekspor minyak bagi Arab Saudi dan negara-negara Teluk lain yang terdampak blokade Iran di Selat Hormuz.
Baca Juga:
- ESDM Kirim 48 Genset ke Puskesmas NTT, Tingkatkan Layanan Medis
- Kemenag Bantah Keras Isu Mundurnya Menag Nasaruddin Umar untuk PBNU
- Prabowo Targetkan Karhutla RI Tuntas dalam Dua Pekan, Waspada El Nino
Pada Agustus lalu, Houthi juga menyerang wilayah-wilayah di bawah kendali pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi, khususnya kota pelabuhan Mokha. Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional kemudian merespons dengan menargetkan infrastruktur Houthi.
“Mokha menghadap Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb, yang secara strategis sangat penting bagi Houthi,” jelas Hisham Al-Omeisy, seorang analis konflik Yaman, kepada DW. “Dalam jangka panjang, Houthi ingin melemahkan kontrol pemerintah atas wilayah pesisir Laut Merah dan mereka bertujuan untuk menguasai sepenuhnya Kegubernuran Al-Hudaydah, di mana Mokha menjadi bagiannya, demi melanjutkan strategi mereka menekan perdagangan maritim global,” prediksinya.
Eskalasi militer terbaru ini mengakhiri empat tahun ketenangan relatif antara Houthi dan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Al-Omeisy juga mencatat adanya dua aspek lain yang mendorong strategi Houthi belakangan ini.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor











