
Insiden pasca-pertandingan Manchester United melawan Como di ajang Liga Champions menjadi sorotan utama, khususnya terkait perilaku manajer Michael Carrick. Aksi tak biasa Carrick, yang langsung menghampiri suporter tim lawan alih-alih skuadnya sendiri, memicu beragam perdebatan sengit di kalangan pengamat dan penggemar sepak bola.
Momen tersebut terjadi setelah Manchester United menelan kekalahan telak 1-4 dari Como pada matchday ketiga League Phase Liga Champions, Rabu, 21 Oktober 2026 malam WIB.
Seusai peluit panjang dibunyikan, Michael Carrick terpantau langsung bergerak menuju tribune suporter Como untuk menyampaikan permohonan maaf. Ia kemudian bergegas menuju lorong stadion tanpa menghampiri para pemainnya.
Jurnalis Manchester Evening News, Tyrone Marshall, melaporkan bahwa Carrick sama sekali mengabaikan seluruh pemain Manchester United. Marshall menggambarkan suasana hati Carrick kala itu penuh kemarahan dan kekecewaan mendalam.
“Michael Carrick mengabaikan seluruh pemain Manchester United saat menuju tribune suporter tandang untuk meminta maaf setelah pertandingan. Setelah itu, dia langsung berjalan menuju lorong stadion. Dia terlihat sangat marah,” tulis Marshall, seperti dikutip dari Give Me Sport.
Rekaman momen ini segera tersebar dan memicu rentetan reaksi di berbagai platform media sosial, termasuk X. Banyak suporter berpendapat bahwa tanggung jawab atas keterpurukan tim tidak hanya terletak pada pundak Carrick semata.
Salah seorang pengguna platform X menyatakan bahwa petinggi klub dan para pemain seharusnya turut menerima konsekuensi atas hasil buruk tersebut. Pendapat ini mencerminkan keresahan terhadap akuntabilitas yang dinilai kurang merata di tubuh tim.
Pengguna X lainnya bahkan menyerukan perubahan menyeluruh, mulai dari budaya klub hingga perencanaan dan taktik permainan. Mereka menilai masalah yang dihadapi Manchester United bersifat struktural dan memerlukan intervensi serius.
Namun, tidak sedikit pula suporter yang membela Carrick, menilai bahwa akar persoalan utama justru berada pada sikap dan komitmen sejumlah pemain. Mereka mendesak para pemain untuk mengambil tanggung jawab lebih besar atas penampilan tim di lapangan.
Kekalahan dari Como ini memperpanjang rekor buruk Manchester United menjadi tujuh pertandingan tanpa kemenangan. Terakhir kali mereka berhasil menghindari kekalahan adalah pada 21 September, menandai periode sulit yang berkelanjutan.
Como membuka keunggulan melalui Nico Paz pada menit kedua. Pemain asal Argentina itu kemudian mencetak gol keduanya, diapit oleh gol-gol dari Anastasios Douvikas dan Jacobo Ramon.
Joshua Zirkzee hanya mampu memperkecil ketertinggalan Manchester United melalui gol pada menit ke-91. Hasil ini memperparah periode sulit Setan Merah, yang diklaim sedang menjalani awal musim terburuk mereka sejak tahun 1986.
Kemerosotan performa United ini tak pelak memunculkan perdebatan mengenai pihak yang paling bertanggung jawab. Sebelumnya, beberapa tokoh, termasuk Lisandro Martinez, telah menyoroti jajaran petinggi klub karena dinilai kurang berinvestasi secara signifikan pada bursa transfer.
Di sisi lain, muncul kekhawatiran yang signifikan mengenai hubungan antara Michael Carrick dan para pemainnya. Aksi pasca-pertandingan sang manajer dinilai dapat menjadi indikator adanya ketegangan internal.
Tekanan terhadap Carrick kini semakin besar pasca-hasil di Como tersebut. Meski demikian, pelatih itu secara tegas menyatakan penerimaannya atas seluruh tanggung jawab terhadap performa Manchester United.
“Saya 100 persen bertanggung jawab atas tim secara keseluruhan dan penampilannya. Tanggung jawab itu berhenti pada saya,” kata Carrick dalam konferensi pers usai pertandingan.
Situasi ini menjadi tantangan besar bagi Carrick dan tim, terutama mengingat jadwal padat yang menanti mereka. Manchester United akan menghadapi serangkaian pertandingan berat di depan mata.
Mereka dijadwalkan akan bertanding melawan Bournemouth, Chelsea, Roma, Aston Villa, dan Liverpool dalam beberapa pekan mendatang.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor