Borussia Mönchengladbach Pecat Pelatih Eugen Polanski Usai Start Buruk Bundesliga

Borussia Mönchengladbach mengambil keputusan drastis dengan memecat pelatih Eugen Polanski setelah mengawali musim Bundesliga 2026/2027 dengan performa mengecewakan. Langkah ini mengejutkan publik, terutama para penggemar sepak bola Indonesia yang terus memantau kiprah bek Timnas Kevin Diks di salah satu klub elite Jerman tersebut.
Klub berjuluk Die Fohlen ini terjerembap di peringkat ke-17 klasemen sementara setelah menelan tiga kekalahan beruntun dalam tiga pertandingan pertama Bundesliga. Kondisi tim amat mengkhawatirkan dengan hanya mencetak tiga gol dan sudah kebobolan 12 kali, sebuah rekor pertahanan terburuk di liga sejauh ini.
Rentetan hasil negatif itu diawali kekalahan telak 0-3 saat menjamu RB Leipzig pada pekan perdana. Situasi semakin parah ketika Gladbach takluk 3-5 dari tim promosi Elversberg di laga berikutnya, sebuah hasil yang tidak diduga mengingat status Elversberg sebagai tim baru.
Puncak kekecewaan datang saat mereka dihajar Freiburg lima gol tanpa balas pada pertandingan ketiga, yang menjadi pukulan telak bagi moral tim.
Kekalahan memalukan tersebut menjadi laga terakhir bagi Polanski, yang baru bertugas sekitar 10 bulan sejak ditunjuk menggantikan Gerardo Seoane November tahun lalu. Polanski sendiri sebenarnya berhasil membawa Gladbach finis di posisi ke-12 Bundesliga musim lalu, menjaga mereka dari ancaman degradasi.
Direktur Olahraga Gladbach, Rouven Schroder, menjelaskan bahwa keputusan ini murni didasarkan pada performa tim yang jauh dari harapan. Ia mengakui bahwa meski ada perkembangan positif selama pramusim, hasil di liga tidak sesuai ekspektasi. "Meski tampil bagus dan menjanjikan di pramusim, tim tidak bisa meraih hasil yang diinginkan di Bundesliga.
Alhasil, kami harus memecat Eugen secepatnya setelah penampilan belakangan ini," ujar Schroder di situs resmi Bundesliga.
Schroder juga menyampaikan apresiasi kepada Polanski dan asistennya, Tobias Trulsen, atas dedikasi mereka. Ia menyebut Polanski sebagai "Borussia sejati," yang menunjukkan ikatan emosional sang pelatih dengan klub.
Untuk sementara, posisi pelatih kepala akan diemban oleh Jan-Moritz Lichte sebagai pelatih interim. Lichte akan memimpin skuad saat mereka menjamu Mainz dalam pertandingan berikutnya, sebuah laga krusial untuk membangkitkan semangat tim dan meraih poin perdana.
Polanski pun menyampaikan salam perpisahannya dengan nada optimistis.
"Saya berharap Borussia bisa cepat bangkit. Saya mendoakan yang terbaik untuk klub, tim, dan juga fans. Terima kasih atas kebersamaan selama ini," kata Polanski.
Kepergian Polanski tentu menimbulkan pertanyaan mengenai dampak terhadap para pemain, termasuk bek tangguh Timnas Indonesia, Kevin Diks. Kehadiran Diks di salah satu liga top Eropa selalu menjadi perhatian utama bagi penggemar sepak bola Tanah Air, dan pergantian pelatih dapat memengaruhi posisinya di tim inti.
Diks, yang dikenal dengan permainan lugas dan kontribusinya di lini belakang, diharapkan dapat terus mendapatkan menit bermain reguler di bawah pelatih baru, siapa pun yang akan ditunjuk secara permanen. Perubahan kepelatihan seringkali membawa angin segar atau sebaliknya, tantangan baru bagi setiap pemain untuk membuktikan kualitasnya.
Situasi yang dialami Polanski bukan hal baru di kancah Bundesliga, yang dikenal dengan tekanan tinggi terhadap pelatih, terutama di awal musim. Klub-klub Jerman kerap mengambil keputusan cepat demi menyelamatkan performa tim dari ancaman degradasi atau kegagalan mencapai target kompetisi Eropa.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor








