
Lionel Messi resmi mengakhiri perjalanan panjangnya bersama tim nasional Argentina melalui kemenangan telak 3-0 atas Benin dalam laga perpisahan yang berlangsung di Stadion Monumental, Buenos Aires, Rabu (7/10) malam waktu setempat. Kapten Albiceleste tersebut menandai penampilan pamungkasnya dengan sumbangan satu gol melalui titik putih dan dua umpan matang bagi rekan setimnya.
Pertandingan ini merupakan momen emosional bagi dunia sepak bola mengingat peran sentral sang pemain dalam membawa negaranya meraih kejayaan tertinggi di kancah global.
Laga sempat terhenti sejenak ketika memasuki menit ke-10 guna memberikan penghormatan khusus kepada pemain yang telah menjadi identitas nomor punggung tersebut selama bertahun-tahun. Seluruh penonton di stadion melakukan aksi berdiri serentak seraya memberikan tepuk tangan meriah sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi tanpa henti selama dua dekade terakhir. Wasit dan para pemain lawan turut berhenti sejenak untuk memberikan ruang bagi perayaan penghormatan yang penuh haru itu.
Argentina menunjukkan dominasi penuh sejak peluit pertama dibunyikan dengan mengurung pertahanan Benin di separuh lapangan. Meskipun tampil menekan, kebuntuan gol baru pecah pada awal babak kedua lewat skema bola mati.
Pada menit ke-48, sepak pojok akurat yang dilepaskan Messi meluncur tepat ke arah Nicolas Otamendi. Bek senior tersebut berhasil menyambut bola dengan sundulan tajam yang mengarah ke sudut gawang, sekaligus mengubah papan skor menjadi 1-0 untuk keunggulan tuan rumah.
Visi bermain sang kapten kembali terlihat nyata saat pertandingan memasuki menit ke-61.
Messi memberikan umpan terobosan cerdik yang memudahkan Nico Paz mencetak gol kedua bagi Argentina dalam laga tersebut. Umpan ini bukan sekadar statistik tambahan, melainkan simbolisasi transfer tongkat estafet dari pemain senior kepada generasi muda yang akan melanjutkan perjuangan tim nasional. Kehadiran Nico Paz sebagai pencetak gol mempertegas bahwa Albiceleste memiliki bibit potensial untuk tetap bersaing di level tertinggi meski tanpa kehadiran sang megabintang di masa depan.
Puncak dari seremoni perpisahan ini terjadi pada menit ke-71 ketika wasit menunjuk titik putih setelah terjadi pelanggaran di kotak terlarang.
Messi yang maju sebagai eksekutor menjalankan tugasnya dengan tenang dan berhasil mengecoh penjaga gawang lawan guna mengunci skor menjadi 3-0. Gol ini menjadi catatan terakhirnya dalam balutan seragam nasional, sebuah penutup yang manis bagi pemain yang telah memberikan segalanya untuk lambang di dada.
Karier Messi di tim nasional Argentina merupakan narasi tentang ketekunan yang luar biasa menghadapi berbagai cobaan. Setelah sempat mengalami periode kegagalan di beberapa laga final besar, ia berhasil membalikkan keadaan melalui trofi Copa America 2021 dan Piala Dunia 2022.
Statistik mencatat bahwa kontribusi Messi bagi Argentina melampaui sekadar jumlah gol dan asis di atas lapangan hijau. Kepemimpinannya di ruang ganti dianggap sebagai faktor kunci yang menyatukan skuad asuhan Lionel Scaloni hingga mampu meraih berbagai gelar prestisius secara beruntun. Tanpa kehadirannya, pelatih Scaloni kini dihadapkan pada tantangan besar untuk merumuskan ulang strategi ofensif tim yang selama ini sangat bergantung pada kreativitas sang kapten.
Federasi Sepak Bola Argentina dikabarkan tengah menyiapkan berbagai langkah penghormatan permanen, termasuk wacana untuk tidak lagi menggunakan nomor punggung 10 di masa mendatang.
Meskipun wacana tersebut masih terbentur aturan resmi organisasi sepak bola internasional, dukungan dari masyarakat luas terus mengalir deras. Publik Argentina memandang bahwa tidak ada pemain lain yang mampu menyamai beban dan prestasi yang telah diukir oleh Messi selama ini. Kepergian sang legenda dari panggung internasional menandai berakhirnya sebuah era keemasan yang mungkin tidak akan terulang dalam waktu dekat.
Suasana di Stadion Monumental setelah peluit panjang berbunyi dipenuhi dengan isak tangis dan nyanyian dari ribuan suporter. Messi melakukan putaran kehormatan mengelilingi lapangan untuk menyapa para penggemar yang telah setia mendukungnya melalui masa suka maupun duka. Langkah kaki terakhirnya menuju ruang ganti menjadi simbol penutupan babak paling gemilang dalam sejarah sepak bola Argentina.
Baca juga tulisan lainnya dari Rizky Pratama
Penulis: Rizky Pratama
Editor: Beritana Editor