Investor Kaya di Dunia Mulai Agresif Tambah Aset Kripto dalam Portofolio

Sebagian besar investor kaya di tujuh negara ekonomi besar dunia kini memiliki aset kripto dan berencana menambah porsi kepemilikan mereka di masa mendatang.
Hasil survei terbaru dari CoinShares mengungkap bahwa kripto rata-rata menyumbang 10 persen dari total portofolio para investor kelas atas tersebut. Data ini dihimpun dari 2.230 responden yang memiliki aset investasi minimal senilai USD 500.000 atau sekitar Rp7,8 miliar di Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Swedia, dan Swiss.
Kepemilikan aset digital di negara-negara tersebut cukup beragam, mulai dari 54 persen di Swedia hingga mencapai 70 persen di Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan Swiss. Antusiasme ini tetap terjaga meskipun pasar aset digital sempat mengalami penurunan pada Februari 2026.
Para investor justru melihat koreksi pasar sebagai momentum untuk menambah investasi, bukan sebaliknya. Alasan utama yang mendasari langkah ini adalah proyeksi keuntungan jangka panjang dan diversifikasi portofolio, sementara spekulasi berada di urutan terakhir.
Bitcoin tetap menjadi aset kripto paling dominan yang dimiliki oleh 80 persen investor digital. Menariknya, 77 persen responden meyakini Bitcoin akan memiliki peran sentral dalam sistem keuangan global di masa depan, meski mayoritas dari mereka tetap mendukung adanya regulasi yang lebih ketat.
Tren investasi ini sangat menonjol di kalangan investor usia muda dibandingkan kelompok usia yang lebih tua. Di empat dari tujuh negara tersebut, investor muda mengalokasikan dana ke kripto dengan jumlah dua kali lipat lebih besar dibandingkan investor senior.
Survei ini juga mencatat adanya kesenjangan pandangan antara investor kaya dengan penasihat keuangan mereka. Sekitar 40 persen responden merasa para penasihat keuangan terlalu berhati-hati atau bahkan enggan memberikan saran mengenai aset digital.
Kondisi tersebut dikonfirmasi oleh Ric Edelman, pendiri Digital Assets Council of Financial Professionals. Menurutnya, banyak penasihat keuangan lambat dalam mengadopsi perkembangan aset digital karena kurangnya pemahaman atau insentif untuk mempelajarinya.
Beberapa firma keuangan bahkan dilaporkan melarang penasihat mereka membahas kripto atau menawarkan instrumen terkait kepada klien. Akibatnya, banyak peluang dalam perencanaan pajak maupun warisan berbasis kripto yang terabaikan oleh para profesional tersebut.
Edelman sendiri menyarankan alokasi aset kripto antara 10 hingga 40 persen sesuai dengan toleransi risiko masing-masing nasabah. Ia berpendapat bahwa seiring dengan kematangan industri ini, alokasi dua digit akan menjadi standar normal bagi para investor di masa depan.
Pandangan optimis ini kontras dengan sikap skeptis dari banyak pihak mengenai penggunaan kripto sebagai instrumen tabungan hari tua. Survei dari National Institute on Retirement Security menyebutkan bahwa mayoritas masyarakat Amerika Serikat masih menganggap kripto sebagai aset yang sangat berisiko untuk dana pensiun.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor












:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367208/original/025231200_1791337054-messi.jpg)