Lionel Messi Ungkap Alasan Ingin Mempermalukan Robert Lewandowski di Lapangan

Lionel Messi akhirnya membuka suara mengenai satu-satunya momen ketika ia memiliki niat untuk mempermalukan lawan di atas lapangan hijau. Sosok yang menjadi sasaran kemarahan sang kapten Argentina tersebut adalah penyerang asal Polandia, Robert Lewandowski.
Ketegangan antara keduanya berpuncak saat Argentina berhadapan dengan Polandia dalam fase grup Piala Dunia 2022. Messi mengakui bahwa ia sengaja mengerahkan kemampuan terbaiknya untuk melewati Lewandowski sebagai bentuk respons atas komentar sang striker setahun sebelumnya.
Kekecewaan Messi bermula dari ajang penghargaan Ballon d'Or 2021. Meskipun Messi meraih trofi ketujuhnya saat itu, ia secara terbuka memberikan pujian kepada Lewandowski karena dianggap layak memenangkan penghargaan edisi 2020 yang dibatalkan akibat pandemi COVID-19. Pandemi COVID-19 merupakan krisis kesehatan global yang sempat menghentikan seluruh kompetisi sepak bola profesional di dunia selama beberapa bulan.
Namun, respons Lewandowski justru menyebut ucapan Messi sebagai kata-kata kosong. Pernyataan tersebut menyulut emosi Messi yang merasa tulus memberikan dukungan kepada rivalnya.
Dalam wawancara eksklusif bersama ESPN, Messi menyatakan dirinya merasa terganggu dengan pernyataan tersebut. Ia memutuskan untuk mengabaikan keberadaan Lewandowski selama pertandingan berlangsung meskipun api amarah masih membakar semangatnya saat itu.
Upaya Messi untuk membuktikan dominasinya di depan Lewandowski pun disadari oleh rekan setimnya, Angel Di Maria. Di Maria menyebut bahwa setiap orang, bahkan neneknya sekalipun, bisa melihat Messi sedang berusaha mengirimkan pesan khusus melalui aksi individu di atas lapangan.
Beruntung, perselisihan tersebut tidak berlangsung lama karena kedua pemain memutuskan untuk berkomunikasi secara langsung. Mereka melakukan pembicaraan personal seusai pertandingan untuk meluruskan duduk perkara yang dianggap sebagai sebuah kesalahpahaman besar.
Hubungan keduanya bahkan membaik setelah Lewandowski memutuskan untuk bergabung dengan Barcelona. Mereka mulai menjalin komunikasi yang lebih cair, termasuk berdiskusi mengenai kehidupan di kota Barcelona serta perkembangan klub sepak bola kebanggaan masyarakat Catalan tersebut.
Saat ini, karier Messi berada pada fase akhir setelah dirinya tampil gemilang di Piala Dunia 2026. Meskipun Argentina harus mengakui keunggulan Spanyol di laga final, performa Messi di usia mendekati 40 tahun kembali membuktikan ketangguhan fisiknya.
Publik sepak bola dunia kini lebih melihat rivalitas di antara mereka sebagai bagian dari dinamika profesional yang wajar. Perselisihan di Qatar tersebut menjadi pengingat bahwa di balik ketenangan Messi, ia tetap memiliki sisi kompetitif yang sangat tajam saat merasa kehormatannya terusik.
Kejadian ini juga menunjukkan bagaimana komunikasi antarpemain di luar lapangan menjadi kunci penyelesaian konflik di olahraga profesional. Terlepas dari insiden masa lalu, kedua legenda ini tetap saling menghormati warisan karier masing-masing dalam sejarah sepak bola modern.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor














