Mencetak Brace untuk Napoli, Kevin De Bruyne Ungkap Tak Sepenuhnya Nyaman Posisi Baru

Gelandang bintang Kevin De Bruyne menunjukkan kilau performa dengan mencetak dua gol saat Napoli menundukkan Frosinone 3-0 dalam lanjutan Serie A. Namun, di balik brace cemerlang tersebut, De Bruyne secara jujur mengakui bahwa ia belum sepenuhnya merasa nyaman dengan peran barunya di lini tengah I Partenopei.
Dalam pertandingan yang digelar di Stadion Diego Armando Maradona, Naples, pada Minggu (11/10/2026) dini hari WIB, De Bruyne menjadi motor serangan timnya. Dua golnya, satu melalui eksekusi penalti dan satu lagi hasil penyelesaian jarak dekat setelah menerima umpan tarik Giovane, menjadi penentu kemenangan mutlak Napoli. Gol pelengkap kemenangan dicetak oleh Noa Lang.
Kemenangan ini menjadi angin segar bagi Napoli yang sedang berupaya mengoptimalkan kontribusi De Bruyne. Sejak bergabung dengan klub raksasa Italia itu lebih dari setahun lalu, sang gelandang Belgia belum mampu mereplikasi performa puncaknya seperti saat membela Manchester City atau Timnas Belgia. Cedera yang silih berganti sering kali menjadi penghambat utama.
Dalam pertandingan melawan Frosinone, De Bruyne dimainkan lebih ke dalam, mengemban peran berbeda dalam skema 3-4-3 yang menjadi andalan Napoli. Penempatan ini terbukti cukup efektif, namun sang pemain mengisyaratkan bahwa posisi tersebut bukanlah zona nyamannya.
“Saya bukan orang yang emosional. Saya sangat pragmatis,” ungkap De Bruyne kepada Sky Sport Italia, menggambarkan pendekatannya yang lugas terhadap permainan.
Ia melanjutkan analisisnya tentang jalannya pertandingan. “Kami bermain bagus pada babak pertama, ada beberapa momen ketika kami bisa tampil lebih baik, terutama pada babak kedua saat seharusnya kami lebih baik dalam menguasai bola.”
Kendati demikian, De Bruyne menilai timnya mampu menemukan solusi. “Dalam 15 menit terakhir, ketika kami mampu mempertahankan penguasaan bola, mereka sangat kesulitan menemukan ritme permainan. Padahal, pada awal babak kedua, kami sempat mengalami masalah dalam hal itu,” jelasnya.
Gelandang berusia 35 tahun ini menegaskan bahwa Napoli memang layak meraih kemenangan karena berhasil menciptakan banyak peluang dan memanfaatkannya dengan baik menjadi gol.
Meski mampu memberikan kontribusi krusial dari posisi yang lebih dalam, De Bruyne tidak menyembunyikan preferensi bermainnya. Ia selalu merasa paling efektif saat berperan sebagai gelandang nomor 8 atau nomor 10, peran yang memberinya kebebasan lebih untuk mengatur serangan dan memberikan umpan kunci.
Peran tersebut, ia jelaskan, telah menjadi identitasnya sepanjang karier profesionalnya. “Saya selalu menjadi pemain nomor 8 atau nomor 10. Peran itu berubah seiring berjalannya waktu, tetapi sejak awal saya selalu bermain sebagai nomor 8 atau 10,” ujarnya, menggarisbawahi konsistensi posisinya.
Keputusan untuk menempatkannya di posisi yang lebih dalam dalam pertandingan kontra Frosinone bukan tanpa alasan. De Bruyne menjelaskan, hal ini berkaitan erat dengan krisis pemain di lini tengah Napoli.
Dua gelandang andalan, Stanislav Lobotka dan Billy Gilmour, baru saja menyelesaikan tugas negara mereka setelah menjalani empat pertandingan internasional. Sementara itu, De Bruyne sendiri tidak tampil pada pertandingan terakhir Timnas Belgia, sehingga manajemen memutuskan memberikan waktu istirahat bagi sejumlah pilar tim.
Jadwal pertandingan yang padat juga menjadi pertimbangan penting bagi staf pelatih. Napoli dijadwalkan melakoni sembilan pertandingan dalam beberapa pekan ke depan, sebuah maraton yang menuntut fleksibilitas dan kedalaman skuad untuk menjaga kebugaran para pemain.
“Jadwalnya sangat padat, tetapi memang seperti itulah situasinya. Saya berusaha membantu tim, itu saja,” tutur De Bruyne, menunjukkan dedikasinya.
Ia menambahkan, “Kami bekerja dengan baik pada awal musim. Sekarang, kami berusaha terus menatap ke depan dan melihat apa yang akan terjadi dalam beberapa pertandingan berikutnya.”
Penempatan De Bruyne di posisi yang lebih dalam ini menjadi sorotan tersendiri di Serie A. Meskipun sang maestro lini tengah masih mampu menghasilkan gol dan asis, peran ini sedikit membatasi kemampuan utamanya dalam mendikte tempo permainan dan melancarkan umpan-umpan terobosan yang menjadi ciri khasnya di Manchester City.
Analisis taktis menunjukkan bahwa jika De Bruyne tetap dipertahankan pada posisi ini secara permanen, Napoli mungkin akan mendapatkan soliditas lini tengah, namun berpotensi kehilangan sentuhan magis sang gelandang di sepertiga akhir lapangan. Pertimbangan ini akan menjadi pekerjaan rumah bagi pelatih untuk menemukan keseimbangan terbaik yang mampu memaksimalkan potensi penuh salah satu pemain terbaik dunia ini.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor













