Safari Politik Gianni Infantino ke Afrika dan Asia Demi Kursi Presiden FIFA
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5269743/original/092797600_1751358995-Gianni_Infantino.jpg)
Gianni Infantino kembali mengintensifkan safari diplomatik ke berbagai negara di Afrika dan Asia untuk mengamankan dukungan menjelang pemilihan Presiden FIFA.
Langkah ini diambil menyusul gejolak dalam rapat Dewan FIFA pekan lalu yang sempat memanas akibat perdebatan mengenai agenda strategis organisasi. Infantino memilih merespons situasi tersebut dengan terjun langsung menemui para petinggi asosiasi sepak bola di berbagai belahan dunia.
Sabtu lalu, ia tampak menghadiri seremoni pembukaan Piala Dunia Wanita U-17 di Rabat, Maroko. Setelah itu, perjalanan berlanjut dengan menempuh jalur udara menuju Bangladesh untuk menemui Presiden Federasi Sepak Bola Bangladesh, Tabith Awal, serta jajaran komite eksekutif setempat.
Dalam pertemuan di Bangladesh, Infantino menegaskan komitmennya terhadap pengembangan sepak bola di kawasan tersebut. Bangladesh sendiri merupakan salah satu penerima manfaat program FIFA Forward dengan total kucuran dana mencapai USD 14,9 juta, atau sekitar Rp234 miliar, sejak tahun 2016.
Dana FIFA Forward merupakan skema bantuan rutin yang diberikan induk organisasi sepak bola dunia ini kepada federasi anggota untuk membiayai infrastruktur dan operasional. Skema ini menjadi instrumen vital bagi negara-negara berkembang untuk meningkatkan kualitas liga domestik maupun pembinaan usia dini.
Agenda Infantino tidak berhenti di Bangladesh. Ia kemudian bertolak ke Bhutan, negara yang secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Infantino setelah proposal mengenai privatisasi Piala Dunia dibatalkan.
Bhutan tercatat telah menerima suntikan dana pengembangan sebesar USD 18,9 juta, setara dengan Rp297 miliar. Dukungan dari federasi sepak bola Bhutan mengalir deras melalui surat resmi yang memuji kepemimpinan pria berkebangsaan Swiss tersebut dalam melayani komunitas sepak bola global.
Upaya konsolidasi kekuasaan ini dilakukan di tengah tekanan kuat dari konfederasi besar seperti UEFA, Concacaf, dan AFC. Ketiga organisasi tersebut sebelumnya melayangkan kritik keras terhadap rencana privatisasi turnamen yang sempat diwacanakan oleh Infantino.
Kritik dari UEFA bahkan menyebut bahwa langkah sang presiden telah melampaui batas kewajaran organisasi. Sebagai respons, Infantino kini lebih sering melakukan perjalanan ke berbagai kawasan, mulai dari Karibia, Eropa Timur, hingga Asia Tengah, menggunakan jet pribadi yang difasilitasi oleh pihak Qatar.
Hingga kini, pihak FIFA masih enggan memberikan keterangan transparan terkait biaya operasional perjalanan menggunakan pesawat jet tersebut. Ketidakpastian pendanaan perjalanan ini menjadi salah satu sorotan di tengah upaya Infantino untuk mempertahankan posisinya sebagai orang nomor satu di federasi sepak bola dunia.
Di sisi lain, FIFA baru saja menyepakati proposal penambahan dana pengembangan sebesar USD 15 juta atau Rp236 miliar per asosiasi untuk periode 2027 hingga 2030. Kebijakan ini dinilai pengamat sebagai strategi untuk menjaga loyalitas asosiasi anggota tetap berada di pihak petahana dalam pemilihan mendatang.
Baca juga tulisan lainnya dari Rizky Pratama
Penulis: Rizky Pratama
Editor: Beritana Editor


:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5127025/original/033945200_1739150290-pedri.jpg)







