
Legenda sepak bola dunia, Zinedine Zidane, angkat bicara mengenai polemik yang menyelimuti perjalanan akhir karier Cristiano Ronaldo bersama tim nasional Portugal. Ia meminta publik agar lebih fokus mengapresiasi pencapaian luar biasa sang penyerang dibandingkan terus menghakimi performa maupun keputusan pribadinya.
Pernyataan ini muncul di tengah panasnya perdebatan mengenai status Ronaldo di bawah asuhan pelatih Jorge Jesus. Zidane menilai sosok pemain berjuluk CR7 tersebut telah memberikan kontribusi besar yang melampaui sekadar angka statistik di atas lapangan hijau.
Kedekatan emosional keduanya terbangun saat masih bekerja sama di Real Madrid. Zidane yang saat itu menukangi tim utama Los Blancos berhasil mempersembahkan tiga gelar Liga Champions secara berturut-turut dengan dukungan penuh dari ketajaman Ronaldo.
Selama periode emas tersebut, Ronaldo mencetak lebih dari 100 gol yang memperkokoh posisi Real Madrid di puncak sepak bola Eropa. Zidane dikenal sebagai salah satu dari sedikit pelatih yang mampu mengelola ego sang bintang dengan sangat baik, bahkan saat harus mengambil keputusan sulit seperti mencadangkannya untuk rotasi pemain.
Kepercayaan itu membuahkan hasil manis bagi klub. Zidane mengaku beruntung pernah memiliki Ronaldo dalam skuadnya karena sang pemain adalah sosok kunci di balik kesuksesan besar yang mereka raih bersama.
Situasi saat ini di tim nasional Portugal memang kontras dengan masa keemasan tersebut. Keputusan Jorge Jesus yang memilih untuk tidak memainkan Ronaldo dalam beberapa laga memicu tensi tinggi hingga berujung pada aksi hengkangnya sang kapten dari pemusatan latihan.
Respon publik di Portugal pun terbelah cukup tajam. Media lokal sempat menyindir situasi tersebut dengan tajuk berita yang menonjolkan kemampuan tim bermain secara kolektif tanpa ketergantungan pada sosok bernomor punggung tujuh tersebut.
Survei yang dirilis oleh TVI dan CNN Portugal menggambarkan dengan jelas betapa terbaginya opini masyarakat. Sekitar 37 persen responden menganggap karier internasional Ronaldo sudah saatnya berakhir, sementara 35 persen lainnya berharap pemain berusia 41 tahun itu masih bisa berkontribusi.
Angka ini menunjukkan pergeseran pandangan yang cukup drastis di kalangan penggemar sepak bola Portugal. Meskipun demikian, dukungan kepada Jorge Jesus sebagai pelatih tetap cukup kuat, terutama setelah ia menunjukkan ketegasan dalam memimpin skuad di tengah tekanan publik yang sangat besar.
Kisah ini mengingatkan pada era Fernando Santos, pelatih yang membawa Portugal meraih dua trofi internasional pertama mereka. Santos pernah mencadangkan Ronaldo saat melawan Swiss di Piala Dunia 2022, sebuah langkah yang sempat dianggap jitu sebelum akhirnya ia harus meninggalkan posisinya setelah kegagalan di babak perempat final.
Jorge Jesus kini berada di bawah pengawasan ketat media dan masyarakat sejak ia menjabat tiga bulan lalu. Meski sempat terlibat pembicaraan darurat dengan Presiden Federasi Sepak Bola Portugal atau FPF, ia tetap konsisten dengan kebijakan teknisnya di lapangan.
Ketegangan antara nama besar pemain dan kebutuhan taktik tim sering kali menjadi dilema di sepak bola modern. Zidane, dengan segala pengalamannya, memilih untuk berdiri di sisi warisan sang pemain tanpa mempedulikan intrik sesaat yang terjadi di balik layar.
Baca juga tulisan lainnya dari Rizky Pratama
Penulis: Rizky Pratama
Editor: Beritana Editor