
Aset kripto Bitcoin tengah menghadapi tantangan signifikan dalam upayanya untuk kembali ke level harga pembukaan tahun 2026. Para investor saat ini memantau ketat pergerakan harga BTC yang berusaha menembus resistansi kunci setelah mencatatkan penutupan mingguan tertinggi sejak Januari lalu di angka USD 86.532 (sekitar Rp1,35 miliar).
Data dari platform TradingView menunjukkan Bitcoin sempat menyentuh level USD 87.000 (sekitar Rp1,36 miliar) dalam upaya keempatnya untuk mendaki lebih tinggi sejak 21 September. Meski begitu, posisi pembukaan tahunan di angka USD 87.570 (sekitar Rp1,37 miliar) masih menjadi tembok penghalang yang cukup berat bagi para pembeli.
Analisis dari pakar pasar Rekt Capital menyebutkan bahwa Bitcoin saat ini terjepit di antara dukungan utama pada level USD 82.500 (sekitar Rp1,29 miliar) dan hambatan resistansi di kisaran USD 86.700 (sekitar Rp1,35 miliar). Jika harga mampu bertahan di atas titik dukungan tersebut, Bitcoin dapat menghindari kejatuhan kembali ke rentang harga sebelumnya antara USD 60.000 hingga USD 80.000.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh kondisi pasar obligasi Amerika Serikat yang tengah menjadi pusat perhatian pelaku ekonomi global. Pasar obligasi merupakan pasar tempat pemerintah atau perusahaan meminjam uang dari investor dengan janji pembayaran bunga, yang sering kali menjadi indikator kesehatan ekonomi makro.
Imbal hasil obligasi sepuluh tahun Amerika Serikat sempat menyentuh angka 5,34 persen, sebuah level yang tidak pernah tercapai sejak tahun 2002. Situasi ini memicu spekulasi mengenai kebijakan suku bunga oleh Federal Reserve yang akan menentukan arah aset berisiko termasuk mata uang kripto dalam beberapa bulan mendatang.
Para analis saat ini menanti publikasi risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) bulan September yang akan dirilis pada hari Rabu. Risalah ini berisi catatan rinci mengenai diskusi pejabat bank sentral Amerika Serikat saat memutuskan kebijakan moneter, termasuk kenaikan suku bunga sebesar 0,25 persen.
Di sisi lain, catatan sejarah pasar menunjukkan Oktober sering kali menjadi bulan yang menguntungkan bagi pemegang aset kripto. Data dari platform CryptoQuant mencatat Bitcoin justru mencatatkan kenaikan 2,7 persen pada bulan ini, melawan tren historis yang biasanya cenderung melemah pada awal Oktober.
Secara rata-rata sejak tahun 2013, Bitcoin tercatat mengakhiri bulan Oktober dengan kenaikan sebesar 18,7 persen. Jika performa historis ini berulang, target harga Bitcoin hingga akhir bulan bisa mendekati angka USD 100.000 (sekitar Rp1,56 miliar), sebuah pencapaian yang sangat dinantikan oleh para pelaku pasar di tengah volatilitas tinggi.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor