
Ambrosia Energy memulai pembangunan pabrik baterai skala besar dengan kapasitas 10 gigawatt-jam (GWh) di dekat Austin, Texas, Amerika Serikat.
CEO sekaligus salah satu pendiri perusahaan, Ben Longmier, menyampaikan kabar tersebut dalam ajang TechCrunch Disrupt di San Francisco pada Selasa lalu. Pabrik ini akan menempati lahan seluas 13.935 meter persegi dengan target mencapai kapasitas produksi penuh dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun ke depan.
Fasilitas ini nantinya berfungsi memproduksi baterai khusus untuk mendukung operasional pusat data atau data center yang berada di luar jaringan listrik utama atau off-grid. Menurut Longmier, kapasitas produksi tersebut memungkinkan mereka membangun pembangkit listrik berdaya 300 megawatt setiap tahun untuk kebutuhan lapangan.
Strategi utama perusahaan adalah memadukan tenaga surya dengan sistem penyimpanan baterai sebagai solusi energi paling ekonomis dan cepat untuk diterapkan. Panel surya akan memasok listrik selama siang hari sekaligus mengisi daya baterai yang kemudian digunakan untuk menjaga pusat data tetap aktif saat malam hari atau cuaca mendung.
Longmier dan rekan pendirinya, Sara Spangelo, merupakan sosok yang sebelumnya mendirikan perusahaan satelit Swarm yang kemudian diakuisisi oleh SpaceX. Keahlian mereka dalam efisiensi sistem kini diterapkan untuk menekan biaya operasional pusat data agar mampu bersaing dengan turbin gas alam.
Mereka mematok harga operasional sebesar USD 100 per megawatt-jam atau sekitar Rp1,55 juta per megawatt-jam. Angka ini dianggap kompetitif untuk menjaga pusat data tetap menyala sepanjang waktu dengan target keandalan mencapai 99,3 persen.
Sebagai langkah awal, Ambrosia akan membangun pembangkit komersial pertama di Texas Barat akhir tahun ini. Proyek tersebut akan mengintegrasikan panel surya berkapasitas 300 megawatt dengan baterai berkapasitas 660 megawatt-jam untuk menghasilkan daya berkelanjutan sebesar 30 megawatt.
Efisiensi menjadi kunci utama agar target biaya tersebut dapat tercapai. Mereka menyederhanakan desain komponen, seperti dudukan panel surya dan unit kemasan baterai, sehingga jumlah suku cadang yang digunakan jauh lebih sedikit dibandingkan produk kompetitor.
Longmier menjelaskan bahwa perusahaan membeli sel baterai dari penyedia yang ada, namun merakit kemasannya sendiri di dalam pabrik. Pendekatan ini memungkinkan biaya produksi kemasan baterai hanya 1,3 kali dari harga sel telanjang, sementara sistem penyimpanan konvensional lainnya biasanya menelan biaya 5 hingga 7 kali lipat.
Sebelum melangkah lebih jauh, Ambrosia telah menguji coba sistem pilot yang beroperasi secara terus-menerus selama lebih dari 100 hari. Sistem skala kecil ini mampu menghasilkan listrik sebesar 200 kilowatt selama 24 jam penuh tanpa henti, yang menjadi dasar keyakinan mereka untuk melakukan ekspansi besar di Texas.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor