Deezer Siapkan Fitur Penyaring Musik AI untuk Menjaga Kualitas Konten

Deezer berencana meluncurkan fitur baru yang memungkinkan pengguna menyaring musik hasil kecerdasan buatan atau AI di dalam aplikasinya.
Fitur ini hadir sebagai respons atas keresahan pendengar yang merasa terganggu oleh banjirnya lagu lagu buatan mesin. Layanan streaming musik tersebut menargetkan alat penyaring ini bisa digunakan secara luas sebelum akhir tahun 2024.
Melalui tombol khusus, pengguna dapat mematikan kemunculan trek, album, hingga profil artis berbasis AI dari hasil pencarian mereka. Langkah ini diambil untuk menjaga pengalaman mendengarkan yang lebih personal dan otentik bagi setiap pelanggan. Pihak perusahaan menyatakan bahwa keinginan menjaga kualitas konten menjadi alasan utama di balik pengembangan fitur tersebut.
Alexis Lanternier, CEO Deezer, mengungkapkan adanya permintaan yang sangat jelas dari para pengguna untuk memisahkan konten buatan manusia dengan AI.
Menurut Lanternier, opsi ini memberikan kebebasan bagi pendengar untuk sepenuhnya mengabaikan karya nonmanusia jika mereka menginginkannya. Fokus perusahaan kini bergeser untuk lebih menghargai kreator dan karya karya asli yang diciptakan oleh tangan manusia.
Lonjakan jumlah musik AI di platform streaming menjadi katalis utama bagi Deezer untuk segera bertindak. Sebuah survei tahun lalu menunjukkan sekitar 45 persen pelanggan Deezer menginginkan cara untuk menghapus musik AI dari beranda mereka. Kehadiran ribuan lagu instan ini dinilai mulai mengaburkan kualitas musik yang seharusnya dinikmati publik.
Deezer sendiri sebenarnya telah menerapkan sistem deteksi AI sejak tahun lalu untuk memantau volume konten yang diunggah ke server mereka.
Saat sistem itu pertama kali diperkenalkan, musik hasil AI hanya mencakup 10 persen dari total unggahan harian. Namun, angka tersebut melonjak drastis seiring dengan semakin mudahnya akses ke perangkat lunak pembuat musik otomatis.
Pada Juli tahun ini, lebih dari 50 persen musik yang diunggah setiap hari ke platform Deezer ternyata merupakan hasil karya AI. Rata rata terdapat 90.000 trek baru setiap harinya yang dihasilkan oleh mesin, bukan komposer manusia. Kondisi ini menciptakan tantangan besar bagi manajemen konten dan algoritma rekomendasi musik.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)









