Google Mulai Uji Coba Chip AI di Luar Angkasa untuk Pusat Data Orbit

Google secara resmi memulai fase pengujian pembangunan pusat data di luar angkasa dengan meluncurkan satelit yang membawa chip kecerdasan buatan, Tensor Processing Units (TPU), ke orbit Bumi.
Satelit prototipe tersebut diterbangkan menggunakan roket SpaceX dari California pada Kamis waktu setempat. Eksperimen ini direncanakan berlangsung selama satu tahun untuk mengukur durabilitas chip tersebut dalam lingkungan antariksa.
Proyek bernama Suncatcher ini merupakan ambisi jangka panjang Google untuk mengoperasikan komputasi AI dengan memanfaatkan energi matahari secara penuh. Dalam skenario masa depan, perusahaan membayangkan jaringan ribuan satelit yang saling terhubung untuk memproses data dari orbit.
Desain satelit prototipe ini dikembangkan melalui kolaborasi dengan Planet Labs dan ditenagai sepenuhnya oleh panel surya. Pemanfaatan orbit sinkron matahari diprediksi mampu menghasilkan energi hingga delapan kali lipat dibandingkan panel surya di Bumi yang terhambat faktor atmosfer dan siklus siang-malam.
Travis Beals, Senior Director of Paradigms of Intelligence di tim riset AI Google, menyatakan bahwa matahari merupakan sumber energi terbesar yang tersedia. Ia menegaskan posisi matahari jauh melampaui potensi sumber energi lain yang saat ini dikelola perusahaan.
Kehadiran pusat data di luar angkasa menawarkan solusi atas kendala lahan dan penolakan warga di daratan. Val Elbert dari Boston Consulting Group menambahkan bahwa infrastruktur ini juga berguna bagi pemerintah untuk menyimpan data berdaulat serta memproses citra satelit secara langsung di orbit.
Namun, tantangan teknis tetap membayangi proyek ambisius ini. Chip AI harus menghadapi guncangan hingga 100 kali gravitasi Bumi saat peluncuran, serta paparan radiasi sinar kosmik yang berpotensi merusak perangkat elektronik sensitif di orbit.
Masalah pembuangan panas menjadi aspek krusial lainnya yang belum terpecahkan sepenuhnya. John Abraham, profesor teknik mesin di University of St. Thomas, menjelaskan bahwa sistem pendingin pusat data di Bumi tidak dapat digunakan di luar angkasa karena ketiadaan medium untuk melepas suhu panas.
Google harus menggunakan radiator khusus yang mengubah energi panas menjadi gelombang cahaya inframerah untuk dipancarkan ke ruang hampa. Tanpa mekanisme pendinginan yang efisien, risiko kerusakan akibat panas berlebih pada chip sangat nyata terjadi.
Skala pembangunan infrastruktur ini pun menuntut biaya yang sangat fantastis. Estimasi awal menyebutkan bahwa pusat data berkapasitas 1 gigawatt memerlukan biaya sekitar 30 miliar dolar AS, sebuah angka yang saat ini masih jauh melampaui biaya pembangunan pusat data serupa di daratan.
Google tetap optimis bahwa kemajuan teknologi peluncuran roket akan menekan biaya operasional di masa depan. Meskipun demikian, perusahaan mengakui bahwa konsep ini masih membutuhkan waktu pengembangan selama bertahun-tahun untuk mencapai tahap komersial.
Saat ini, tim teknis masih menunggu data performa dari empat chip TPU yang telah mengangkasa. Hasil evaluasi ini akan menjadi penentu apakah perilaku operasional chip di luar angkasa tetap konsisten dengan simulasi yang dilakukan di Bumi.
Langkah progresif selanjutnya sudah disiapkan oleh perusahaan. Google menjadwalkan peluncuran lanjutan pada 2027 dengan menggunakan dua unit satelit yang memiliki kemampuan saling terhubung sebagai bagian dari validasi sistem jangka panjang.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor











