Instacart Dikabarkan Jajaki Potensi Penjualan, DoorDash dan Uber Terlibat Diskusi

Perusahaan layanan pengiriman bahan makanan terkemuka, Instacart, dilaporkan tengah menjajaki kemungkinan untuk menjual operasionalnya kepada kompetitor yang lebih besar.
Kabar ini mencuat setelah laporan dari The Information pada Jumat (14/6) yang menyatakan bahwa Instacart telah menunjuk sebuah bank investasi untuk mengevaluasi berbagai opsi strategisnya. Diskusi awal mengenai potensi akuisisi juga dilaporkan telah dilakukan dengan DoorDash, salah satu raksasa di industri pengiriman.
Selain itu, Bloomberg juga memberitakan bahwa Instacart sempat berdialog dengan Uber terkait kemungkinan serupa. Namun, laporan tersebut mengindikasikan bahwa Uber telah menarik diri dari diskusi awal tersebut, menunjukkan adanya kompleksitas dalam negosiasi.
Saat ini, Instacart memiliki kapitalisasi pasar lebih dari USD 13 miliar (sekitar Rp212 triliun, asumsi kurs Rp16.300/USD) dan harga sahamnya telah melonjak 25% sepanjang tahun ini. Momentum positif ini mungkin dilihat manajemen sebagai waktu yang tepat untuk mempertimbangkan penjualan dengan valuasi yang menarik.
Langkah strategis ini kemungkinan besar diambil sebelum persaingan di pasar pengiriman bahan makanan semakin ketat. Akan tetapi, Bloomberg menekankan bahwa pembicaraan ini masih berada pada tahap awal dan belum tentu berujung pada kesepakatan penjualan.
Seorang juru bicara Instacart menolak memberikan komentar mengenai laporan-laporan tersebut. Respons diam ini semakin memicu spekulasi di kalangan investor dan analis pasar.
Laporan mengenai potensi penjualan ini langsung berdampak signifikan pada harga saham Instacart, yang melonjak lebih dari 9,2% pada hari Jumat. Di sisi lain, saham Uber dan DoorDash justru mengalami penurunan, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap dampak finansial jika akuisisi benar-benar terjadi.
Situasi ini menggarisbawahi dinamika kompetitif yang intens dalam sektor pengiriman bahan makanan daring, terutama di Amerika Serikat. Pemain besar seperti Instacart, DoorDash, dan Uber Eats terus mencari cara untuk memperkuat posisi pasar dan mencapai skala ekonomi yang lebih efisien.
Akuisisi Instacart oleh salah satu raksasa teknologi ini akan mengubah lanskap industri secara fundamental. Instacart, dengan jaringannya yang luas dan basis pelanggan yang loyal, dapat menjadi aset berharga bagi perusahaan mana pun yang ingin mendominasi segmen pengiriman bahan makanan.
Bagi DoorDash, yang telah menunjukkan ambisi kuat untuk berekspansi di luar pengiriman restoran, mengakuisisi Instacart akan menjadi langkah logis. Ini akan memungkinkan mereka untuk segera memperbesar kehadiran di pasar groceries yang tumbuh pesat, menghadapi rival seperti Amazon Fresh dan Walmart.
Sementara itu, Uber melalui divisi Uber Eats-nya, juga giat memperluas layanan pengiriman bahan makanan dan kebutuhan sehari-hari. Meski dilaporkan telah mundur dari diskusi, potensi sinergi antara teknologi logistik Uber dan operasional Instacart tetap menarik secara strategis.
Pembicaraan awal ini juga merefleksikan tren konsolidasi yang sedang berlangsung di sektor gig economy dan pengiriman. Seiring dengan semakin matangnya pasar, perusahaan-perusahaan berupaya mencapai profitabilitas melalui efisiensi operasional dan pengurangan biaya, seringkali melalui akuisisi untuk memperluas jangkauan dan mengurangi persaingan.
Ke depan, para pelaku pasar akan terus memantau perkembangan diskusi ini dengan cermat. Hasil dari penjajakan Instacart dapat memberikan indikasi penting mengenai arah masa depan industri pengiriman bahan makanan global.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor





:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365285/original/028782200_1791168361-yan.jpg)



