Jaringan Layer-2 Ethereum Blast Resmi Tutup, Dana Pengguna Diminta Segera Ditarik

Jaringan layer-2 Ethereum, Blast, secara resmi mengumumkan penutupan operasional mereka setelah sempat menarik minat pasar dengan nilai aset mencapai USD 2,3 miliar atau sekitar Rp36 triliun.
Tim pengembang menyatakan bahwa biaya operasional jaringan kini jauh melampaui pendapatan yang dihasilkan. Mereka menilai tidak ada lagi jalan yang masuk akal untuk menjaga keberlangsungan ekonomi proyek tersebut di masa depan.
Sebagai respons, pengguna diminta untuk segera memindahkan aset mereka kembali ke mainnet Ethereum. Proses penarikan dana ini mencakup saldo yang tersimpan dalam aplikasi web progresif atau PWA milik Blast.
Pihak Blast menjelaskan bahwa mereka akan memangkas jeda waktu penarikan menjadi 24 jam. Namun, sebelum itu, penarikan akan dihentikan sementara selama sekitar satu pekan guna menarik seluruh aset jaringan dari Lido, sebuah protokol liquid staking yang memungkinkan pengguna mendapatkan imbal hasil dari aset yang dikunci.
Pengguna memiliki tenggat waktu hingga 26 Oktober untuk melakukan penarikan melalui antarmuka resmi Blast. Setelah tanggal tersebut, dana tetap bisa ditarik, tetapi hanya melalui interaksi langsung dengan kontrak jembatan atau bridge contracts Blast di jaringan Ethereum.
Blast diluncurkan pada November 2023 oleh tim di balik marketplace NFT, Blur. Proyek ini menawarkan imbal hasil otomatis untuk saldo ETH dan stablecoin, sebuah strategi yang menarik perhatian besar meski sempat menuai kritik dari investor pendukungnya, Paradigm.
Saat diluncurkan ke publik pada Februari 2024, nilai total aset yang terkunci atau total value locked mencapai USD 2,3 miliar (Rp36 triliun). Namun, ketidakstabilan segera melanda jaringan tersebut.
Perjalanan Blast mulai terhambat setelah pemutakhiran Dencun pada Maret 2024 yang menyebabkan jaringan sempat berhenti memproduksi blok. Ketidakpuasan pengguna semakin meningkat ketika distribusi token BLAST pada Juni 2024 tidak memenuhi ekspektasi banyak pihak, yang memicu penurunan nilai aset secara konsisten.
Fenomena penutupan layanan ini bukan hal asing di ekosistem kripto saat ini. Sebelumnya, Zerion telah menutup Zero Network, sebuah jaringan layer-2 tanpa biaya gas, setelah beroperasi selama 18 bulan.
Selain itu, Silicon Network yang berafiliasi dengan bursa kripto asal Korea Selatan, Korbit, juga telah menghentikan penerimaan setoran sejak awal September. Mereka memberikan waktu bagi pengguna untuk menarik dana hingga akhir tahun ini.
Tren penutupan ini sejalan dengan konsolidasi yang terjadi di industri aset kripto global. Berbagai platform bursa seperti CoinEx, BitMEX, dan BitMart telah melaporkan penghentian layanan atau penutupan operasi sepanjang tahun 2024, mencerminkan persaingan ketat dalam menjaga keberlanjutan bisnis di sektor teknologi finansial yang volatil.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)











