Nvidia Cetak Rekor Baru, Nilai Pasar Capai USD 5,7 Triliun

Saham Nvidia mencatatkan rekor tertinggi pada perdagangan Jumat setelah menyentuh harga USD 237,88 per lembar.
Lonjakan harga tersebut mendorong kapitalisasi pasar produsen cip asal Amerika Serikat ini menembus angka USD 5,7 triliun atau sekitar Rp88.800 triliun. Capaian ini sekaligus menempatkan Nvidia sebagai perusahaan dengan nilai pasar terbesar di dunia saat ini.
Kapitalisasi pasar adalah total nilai seluruh saham perusahaan yang beredar di bursa. Secara sederhana, angka ini mencerminkan harga jual keseluruhan bisnis jika dibeli saat ini. Sebagai perbandingan, nilai ini jauh melampaui total kapitalisasi seluruh pasar aset kripto, termasuk Bitcoin, yang kini berada di kisaran USD 3 triliun.
Pertumbuhan fantastis Nvidia didorong oleh tingginya permintaan terhadap unit pemrosesan grafis atau GPU. Komponen ini awalnya dirancang untuk kebutuhan gim video, namun kini menjadi tulang punggung utama dalam pengembangan serta pelatihan kecerdasan buatan atau AI.
Perusahaan teknologi raksasa dunia berlomba memborong cip buatan Nvidia dalam jumlah masif. Amazon melalui unit komputasi awannya berencana menggunakan satu juta unit hingga 2027, sementara fasilitas milik xAI telah mengoperasikan setengah juta cip dengan target peningkatan tiga kali lipat di masa depan.
CEO Nvidia, Jensen Huang, menegaskan bahwa daya komputasi kini telah bertransformasi menjadi sumber pendapatan utama perusahaan. Artinya, anggaran besar yang dikeluarkan perusahaan teknologi untuk AI secara langsung mengalir ke kantong Nvidia sebagai penyedia infrastruktur teknis.
Laporan pendapatan kuartal yang berakhir Juli lalu menunjukkan angka fantastis sebesar USD 96,2 miliar. Sektor pusat data, yang berisi ribuan peladen untuk menjalankan AI, menyumbang porsi terbesar dengan nilai USD 89 miliar.
Sentimen pasar semakin positif setelah perusahaan mengumumkan program pembelian kembali saham atau buyback senilai USD 150 miliar. Keputusan ini meningkatkan total otorisasi buyback menjadi USD 235 miliar hingga tahun fiskal 2028, menjadikannya salah satu aksi korporasi terbesar dalam sejarah industri teknologi.
Pasar juga bereaksi terhadap data tenaga kerja Amerika Serikat yang menunjukkan perlambatan pada September. Angka penyerapan tenaga kerja yang lebih rendah dari perkiraan justru disambut pasar saham karena mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve.
Suku bunga rendah menguntungkan perusahaan teknologi yang membutuhkan biaya pinjaman lebih murah untuk membangun pusat data AI. Mengingat dominasi Nvidia yang sangat kuat, hambatan biaya modal ini dirasakan lebih berat oleh para kompetitor dibandingkan oleh Nvidia sendiri.
Kepercayaan diri Nvidia juga ditunjukkan melalui komitmen pendanaan kepada para pelanggan strategis mereka. Mereka telah menyuntikkan dana sebesar USD 30 miliar ke OpenAI serta USD 10 miliar kepada Anthropic untuk memastikan ekosistem AI tetap berjalan di atas infrastruktur mereka.
Perusahaan kini memproyeksikan pendapatan sebesar USD 108 miliar untuk kuartal berjalan. Angka ini menjadi panduan optimis bagi investor di tengah ekspansi masif pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan global yang terus berlanjut hingga beberapa tahun mendatang.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor








