Awal Oktober yang Gemilang, Harga Bitcoin Melonjak Tembus USD 86 Ribu

Pasar aset kripto mencatatkan awal bulan yang positif saat harga Bitcoin menembus level USD 86.757 atau sekitar Rp1,34 miliar pada Jumat waktu setempat. Kenaikan sebesar 3 persen dalam 24 jam terakhir ini menjadi sinyal kuat bagi para pelaku pasar setelah sepanjang September harga cenderung tertekan.
Pergerakan harga ini dipicu oleh rilis data inflasi Amerika Serikat yang menunjukkan tren melandai. Angka Personal Consumption Expenditures (PCE) inti bulan Agustus tercatat sebesar 3 persen, lebih rendah dari ekspektasi pasar yang berada di kisaran 3,3 persen.
Data ekonomi ini meningkatkan keyakinan investor bahwa Federal Reserve akan menahan suku bunga pada pertemuan mendatang. Alat pemantau FedWatch dari CME kini mencatat probabilitas suku bunga tetap berada di angka 74 persen, melonjak tajam dibandingkan pekan sebelumnya yang hanya menyentuh 35,8 persen.
Namun, kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat memberikan sinyal yang bercampur. Laporan resmi menunjukkan nonfarm payrolls atau data lapangan kerja di luar sektor pertanian hanya bertambah 29.000 pekerjaan, jauh di bawah proyeksi analis yang mencapai 90.000 posisi.
Tingkat pengangguran pun sedikit mengalami kenaikan menjadi 4,2 persen. Kondisi ini memunculkan perdebatan baru di kalangan pengamat mengenai apakah pasar tenaga kerja Amerika Serikat mulai mendingin atau justru sedang mengalami pelemahan struktural.
Di sisi lain, arus masuk modal ke produk investasi Spot Bitcoin ETF menunjukkan performa yang cukup solid. Sepanjang September, total dana yang masuk mencapai USD 2,65 miliar atau sekitar Rp41 triliun, yang menjadi salah satu catatan terbaik sejak Oktober 2025.
Analis dari Nexo, Iliya Kalchev, berpendapat bahwa tren positif ini didorong oleh aksi korporasi besar. Masuknya dana dari bank investasi seperti Morgan Stanley menjadi indikasi bahwa sistem pengelolaan kekayaan institusi kini mulai mengalokasikan Bitcoin ke dalam portofolio klien mereka.
Fenomena yang akrab disebut sebagai Uptober ini juga didukung oleh sentimen historis pasar. Selama satu dekade terakhir, Oktober dan November kerap menjadi bulan dengan performa terbaik bagi pergerakan Bitcoin dengan rata-rata kenaikan bulanan sebesar 18 persen.
Meski demikian, para pelaku pasar tetap diminta untuk waspada terhadap kebijakan moneter ke depan. Stephen Wundke dari Algoz mengingatkan bahwa keputusan bank sentral mengenai suku bunga masih akan menjadi penentu utama arah pasar kripto dalam sisa tahun ini.
Bitcoin kini masih berada di level sekitar 31 persen di bawah rekor harga tertinggi yang pernah dicapainya setahun silam. Investor kini menantikan rilis data Consumer Price Index (CPI) atau indeks harga konsumen pada 14 Oktober untuk mendapatkan kepastian arah tren ekonomi global.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor












:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4946338/original/036837700_1726613456-Penyerang_Juventus.jpg)

