Perpecahan pandangan politik di tengah masyarakat juga menjadi sorotan utama dalam temuan lembaga tersebut. Setidaknya 55 persen responden merasakan dampak nyata berupa polarisasi politik yang semakin tajam akibat penggunaan media sosial. Situasi ini berbeda dengan negara seperti Filipina atau Thailand, di mana tingkat kepercayaan terhadap sisi positif media sosial masih bertahan di atas 70 persen.
Para analis melihat bahwa keterlibatan media sosial dalam berbagai peristiwa politik domestik menjadi faktor utama penyebab perubahan pandangan publik di tanah air. Narasi yang memecah belah dan arus informasi yang tidak terverifikasi cenderung mendominasi ruang digital saat momentum pemilihan umum. Dampak langsung dari kebisingan digital tersebut kemudian dirasakan secara personal oleh warga.
Perbedaan respons antar generasi juga terlihat jelas dalam survei ini. Kelompok usia muda cenderung lebih optimis memandang ruang digital sebagai sarana partisipasi. Sementara itu, kelompok usia yang lebih dewasa merasa lebih waspada terhadap arus informasi yang tidak terkendali. Kesenjangan pengalaman ini menunjukkan bagaimana media sosial membentuk persepsi yang berbeda tergantung pada latar belakang pengguna.
Meski masih ada mayoritas yang menganggap media sosial memiliki sisi positif, kecepatan pergeseran pandangan ke arah negatif menjadi catatan penting. Hal ini mengindikasikan adanya tantangan serius dalam menjaga ruang publik agar tetap sehat di tengah ketergantungan masyarakat pada platform digital. Kepercayaan yang mulai luntur menjadi sinyal bahwa literasi digital dan regulasi informasi kini sangat dibutuhkan oleh publik.