
Startup asal San Francisco, Mirror Particle, kini tengah mengembangkan teknologi untuk memodelkan perilaku manusia dengan cara yang berbeda dari pendahulunya. Perusahaan ini membangun model dasar yang mensimulasikan alasan seseorang bertindak dan bagaimana perubahan perilaku terjadi seiring berjalannya waktu.
Tren startup yang menawarkan prediksi perilaku manusia sedang berkembang pesat di pasar global saat ini. Beberapa perusahaan besar seperti Humans& telah mendapatkan pendanaan fantastis mencapai USD 480 juta atau sekitar Rp7,5 triliun untuk membangun sistem serupa.
Selama ini, industri prediksi perilaku sangat bergantung pada model bahasa besar atau Large Language Models (LLM). Sistem tersebut biasanya diatur untuk berperan sebagai target demografis tertentu dalam pengujian riset pasar.
Abhivyakti Ahuja, pendiri sekaligus CEO Mirror Particle, menilai pendekatan berbasis LLM memiliki kelemahan mendasar. Dia mengibaratkan penggunaan LLM untuk memahami perilaku manusia seperti mencoba mengeringkan air terjun Niagara dengan pistol air mainan.
Menurutnya, LLM hanya dilatih menggunakan data teks dalam jumlah besar, namun mengabaikan aspek penting seperti persepsi visual dan kecerdasan sosial. Pendekatan ini sering kali terjebak dalam data masa lalu yang tidak relevan dengan dinamika individu.
Mirror Particle memilih jalur berbeda dengan menciptakan model dunia yang mempelajari perkembangan manusia sejak dini. Sistem ini melacak data longitudinal untuk memahami pemicu perubahan sikap seseorang, bukan sekadar memotret karakter manusia secara statis.
Data yang digunakan perusahaan mencakup informasi pelanggan, tren budaya populer, hingga interaksi di media sosial. Mereka lebih berfokus pada perilaku nyata daripada jawaban survei yang sering kali bersifat subjektif atau tidak akurat.
Contoh nyata efektivitas model ini terlihat saat pengujian pada merek makanan hewan ternama. Alih-alih menyarankan perubahan gambar kemasan, sistem mereka justru mengungkap bahwa masalah utama merek tersebut adalah persepsi konsumen sebagai produk massal yang murah.
Ahuja mendirikan Mirror Particle bersama Will Song dan Thomson Yen, dua rekan kerjanya di Amazon Robotics. Keahlian mereka di bidang neurosains dan pembelajaran mesin menjadi fondasi dalam membangun arsitektur kecerdasan buatan tersebut.
Kini, Mirror Particle bersiap untuk berkompetisi dalam Startup Battlefield 200 di ajang TechCrunch Disrupt 2026. Ajang ini menjadi panggung bagi mereka untuk menunjukkan visi jangka panjang perusahaan sebagai lapisan umum dalam mengantisipasi perilaku manusia.
Dalam jangka panjang, mereka menargetkan transisi dari analisis populasi luas ke tingkat individu. Teknologi ini diharapkan mampu menciptakan kolaborasi yang lebih harmonis antara manusia dan sistem kecerdasan buatan di masa depan.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor