Munculnya Peran GTM Engineer: Inovasi AI yang Mengubah Strategi Bisnis Global

Dunia teknologi kini tengah menyaksikan lahirnya kategori pekerjaan baru yang dikenal dengan sebutan GTM engineer atau Go-to-Market engineer. Peran ini mulai marak di berbagai perusahaan, memanfaatkan kecerdasan buatan dan otomatisasi untuk membangun sistem pendapatan yang sebelumnya membutuhkan tenaga kerja manual dalam jumlah besar.
Kareem Amin, salah satu pendiri dan CEO perusahaan perangkat lunak Clay, akan membahas tren ini secara mendalam pada ajang TechCrunch Disrupt 2026. Ia dijadwalkan tampil di panggung utama untuk mengupas bagaimana kecerdasan buatan atau AI telah merombak struktur tradisional dalam pemasaran dan penjualan.
Dahulu, tim pemasaran harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk melakukan riset profil pelanggan, membersihkan data yang berantakan, serta menyusun pesan komunikasi satu per satu. Kini, tugas-tugas repetitif tersebut digantikan oleh sistem yang terintegrasi melalui kecerdasan buatan.
Seorang GTM engineer bertanggung jawab membangun alur kerja pendapatan otomatis, bukan sekadar mengeksekusi tugas secara manual. Keterampilan ini menjadi jembatan antara teknis pemrograman dan kebutuhan bisnis dalam mencari serta menjangkau pelanggan secara lebih efektif.
Clay sendiri merupakan pelopor yang mencetuskan peran ini pada tahun 2023. Saat ini, terdapat sekitar 100 lowongan pekerjaan untuk posisi serupa setiap bulannya di perusahaan besar seperti Cursor, Lovable, dan Webflow.
Perusahaan-perusahaan kini mulai dihadapkan pada pilihan sulit terkait efisiensi operasional. Apakah mereka harus terus menambah jumlah karyawan untuk mengeksekusi proses yang sudah ada, atau justru membangun sistem yang memungkinkan tim saat ini bekerja dengan pendekatan yang jauh lebih cerdas.
Perkembangan ini sejalan dengan pertumbuhan pesat Clay yang didirikan di Brooklyn pada tahun 2017. Perusahaan ini baru saja mendapatkan pendanaan Seri D senilai USD 115 juta atau setara dengan Rp1,8 triliun pada bulan September, dengan valuasi perusahaan mencapai USD 7,1 miliar atau sekitar Rp111 triliun.
Kareem Amin menekankan bahwa tujuan utamanya sejak awal adalah memberikan kemampuan pemrograman kepada lebih banyak orang. Kecerdasan buatan akhirnya memberikan jalan bagi tim penjualan dan pemasaran untuk membangun sistem otomatisasi riset tanpa harus bergantung pada sumber daya teknik tradisional yang mahal.
Untuk mendukung pertumbuhan profesi baru ini, Clay telah mengumumkan dana beasiswa sebesar USD 1 juta atau sekitar Rp15,7 miliar. Program ini ditujukan untuk melatih para profesional agar mampu mengisi posisi strategis sebagai GTM engineer di masa depan.
Ajang TechCrunch Disrupt 2026 yang berlangsung pada 13 hingga 15 Oktober di Moscone West, San Francisco, diharapkan menjadi tempat bertukar wawasan bagi para pelaku industri. Lebih dari 10.000 pemimpin teknologi dan pendiri startup akan berkumpul untuk mendiskusikan masa depan peran krusial dalam pertumbuhan perusahaan ini.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)











:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365050/original/000063300_1791098201-modric.jpg)

