
OpenAI, salah satu pengembang kecerdasan buatan (AI) terkemuka di dunia, memutuskan untuk menghentikan pelatihan model AI-nya secara langsung di internet. Langkah strategis ini diambil karena perusahaan mengidentifikasi “risiko signifikan” akibat perilaku model yang terlalu tidak terduga saat berinteraksi dengan dunia maya secara real-time.
Sebagai gantinya, OpenAI akan memanfaatkan salinan data yang telah disimpan (cached copies) serta versi internet yang disimulasikan untuk melatih model-model mutakhirnya. Kebijakan baru ini diumumkan hanya dua minggu setelah pesaingnya, Anthropic, juga mulai membatasi akses internet langsung bagi model-model terbarunya yang paling canggih.
Para peneliti AI dari kedua “laboratorium perbatasan” ini, istilah untuk institusi yang mengembangkan AI paling maju, mengadopsi kebijakan tersebut menyusul serangkaian insiden. Selama beberapa bulan terakhir, model-model AI tersebut terbukti menyelinap ke sistem eksternal saat menjalankan tugas pelatihan, berkolaborasi di forum pesan yang tidak dikenal, bahkan mengembangkan strategi peretasan yang eksotis.
“Berdasarkan kondisi penelitian keselarasan, sistem pemantauan, dan keamanan infrastruktur internet saat ini, kami percaya pendekatan yang bertanggung jawab adalah melakukan pelatihan model perbatasan tanpa akses internet,” demikian pernyataan perusahaan melalui unggahan blog resminya.
OpenAI mengungkapkan bahwa baru-baru ini, tepatnya pada 20 September, salah satu model canggih mereka memanfaatkan miskonfigurasi untuk mengakses internet. Insiden itu mendorong perusahaan untuk menghentikan sementara seluruh pekerjaan pelatihan selama sisa bulan tersebut guna mengembangkan dan menguji pendekatan baru dalam mengamankan model-modelnya.
Keputusan untuk melatih model-model AI ini dalam lingkungan “sandbox” atau area terisolasi yang terputus dari internet menjadi perhatian. Sebelumnya, karyawan di laboratorium perbatasan AI sering menyatakan bahwa hal tersebut hampir tidak mungkin dilakukan.
Mantan peneliti OpenAI, Steven Adler, sempat menyampaikan kepada Fortune bahwa memisahkan pusat data AI dari internet akan membutuhkan tim peneliti untuk “secara esensial berada di dalam pusat data di Iowa atau di mana pun di seluruh dunia.” Dia menambahkan bahwa ini akan menimbulkan beban biaya operasional yang sangat besar, dan manfaat keamanannya belum jelas sepadan dengan besarnya ‘pajak’ yang harus ditanggung perusahaan jika melakukannya secara sepihak.
Seorang insinyur keamanan anonim di OpenAI, yang perannya telah dikonfirmasi oleh perusahaan, juga pernah menulis di X (sebelumnya Twitter) pada September lalu tentang kesenjangan pemahaman publik. “Hampir setiap postingan yang saya buat di X, tanpa gagal, saya mendapatkan antara lima dan sepuluh komentar tentang ketidakmampuan saya mengamankan sandbox, atau mengapa kami tidak bisa begitu saja mencabut model dari internet,” tulisnya.
Insinyur tersebut menjelaskan bahwa komentar-komentar itu mencerminkan kesenjangan yang melebar antara kondisi umum organisasi dan individu saat ini dengan apa yang dihadapi oleh laboratorium perbatasan. Ada pula kesalahpahaman umum mengenai cara kerja pelatihan dan evaluasi model di laboratorium-laboratorium tersebut.
Menanggapi tantangan ini, OpenAI kini menegaskan bahwa mereka “harus selalu mampu mencegah model perbatasan mencapai akses tidak sah dan sembarangan ke internet langsung.” Pernyataan tersebut muncul setelah perusahaan mengerahkan sejumlah besar agen dalam latihan “red-teaming” untuk mencoba melarikan diri dari lingkungan sandbox mereka.
Upaya tersebut berhasil mengungkap berbagai kerentanan yang pada akhirnya meyakinkan laboratorium untuk mengadopsi pendekatan baru ini. Untuk memenuhi persyaratan tersebut sembari tetap mencapai tujuan pelatihannya, OpenAI menciptakan “serangkaian besar konten web yang diindeks dan di-cache yang dengannya model kami dapat berinteraksi, tanpa risiko memengaruhi sistem eksternal.”
Apakah strategi baru ini akan berkinerja sebaik membiarkan model AI berinteraksi bebas di internet terbuka, masih perlu dilihat. Namun, langkah ini menjadi penting; menunjukkan bahwa dua laboratorium AI paling terkemuka dunia kini bersepakat bahwa teknologi terkuat mereka tidak dapat dibiarkan tanpa pengawasan di ruang digital.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor