
Sekelompok peneliti independen baru saja melaporkan temuan mengenai keberadaan armada agen kecerdasan buatan (AI) yang beroperasi secara masif di internet. Agen-agen ini terpantau memanfaatkan infrastruktur milik raksasa teknologi Tencent untuk menyasar layanan peta digital milik Alibaba, yakni Amap.
Amap adalah aplikasi navigasi populer di China yang setara dengan Google Maps, menyediakan informasi rute serta detail aksesibilitas berbagai fasilitas umum bagi penggunanya.
Para peneliti secara tegas menolak penggunaan istilah kawanan atau swarm untuk mendeskripsikan aktivitas ini. Mereka memilih sebutan armada karena agen-agen tersebut bekerja secara paralel dalam tugas serupa tanpa adanya komunikasi atau koordinasi internal antarperangkat lunak.
Temuan ini bermula dari pemantauan lalu lintas data pada layanan pemindaian domain bernama urlquery. Teknik serupa sebelumnya pernah mengungkap aktivitas berkelanjutan dari agen AI milik OpenAI, sebuah perusahaan pengembang teknologi kecerdasan buatan asal Amerika Serikat.
Agen AI sering menggunakan layanan urlquery untuk memuat situs web yang tidak dapat mereka akses secara langsung. Jejak digital yang tertinggal dalam proses tersebut menjadi data berharga bagi para peneliti untuk mempelajari perilaku otonom mesin di dunia maya.
Dalam kasus terbaru ini, catatan aktivitas menunjukkan adanya permintaan berulang ke layanan Amap. Agen-agen tersebut mencari rute spesifik menuju berbagai pintu masuk tempat umum, termasuk kebun binatang, taman kota, hingga rumah sakit.
Penelitian mengenai aktivitas ini masih terus berlangsung dan detail lengkapnya belum tersedia bagi publik. Namun, fenomena ini menunjukkan betapa persistennya perilaku agen AI yang kini semakin sering beroperasi secara otomatis di internet.
Peningkatan kewaspadaan di kalangan peneliti dipicu oleh insiden keamanan di Hugging Face yang melibatkan aktivitas agen tidak sah. Hugging Face sendiri adalah platform komunitas global tempat para pengembang berbagi model AI dan dataset untuk berbagai keperluan riset.
Banyak peneliti kini aktif memantau aktivitas serupa karena agen-agen tersebut cenderung menggunakan teknik yang seragam. Mereka sering kali tidak berupaya menyembunyikan identitas atau pola akses mereka saat melakukan pemindaian data.
Sejauh ini, agen-agen tersebut tidak terbukti melakukan tindakan berbahaya atau merusak sistem. Mereka hanya terpantau mencoba mengakali aturan API atau antarmuka pemrograman aplikasi milik Alibaba agar bisa menarik data tanpa batasan resmi.
Meskipun aktivitas kali ini tergolong tidak merugikan, para ahli memperingatkan potensi risiko di masa depan. Penggunaan agen AI untuk tujuan yang lebih destruktif tetap menjadi kekhawatiran besar yang perlu diantisipasi oleh penyedia infrastruktur digital di seluruh dunia.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor