Namun, tantangan nyata bagi SpaceX baru akan dimulai setelah euforia pasar perdana ini mereda.
Perusahaan kini memikul beban berat untuk membuktikan bahwa valuasi raksasanya sebanding dengan kinerja bisnis yang nyata. Target-target rekayasa teknologi mereka sangat ambisius, mulai dari penyelesaian roket pakai ulang terbesar di dunia hingga pembangunan pabrik cip baru di Amerika Serikat.
Pihak yang paling diuntungkan dari aksi korporasi masif ini tidak lain adalah Elon Musk sendiri. Ia memegang hampir 850 juta lembar saham Kelas A yang masing-masing memiliki hak satu suara. Di luar itu, ia juga memiliki hak atas 5,6 miliar saham Kelas B dengan kekuatan sepuluh suara per lembar, termasuk satu miliar saham yang baru bisa dicairkan jika misi mengirim satu juta manusia ke Mars berhasil terwujud.
Selain Musk, pendiri Valor Management, Antonio Gracias, juga mendulang untung besar dengan kepemilikan 503,4 juta lembar saham senilai hampir 68 miliar dollar AS.
Sejumlah petinggi internal lain seperti anggota dewan direksi Luke Nosek yang memiliki 33 juta saham dan COO Gwynne Shotwell dengan kepemilikan hampir 12,6 juta saham turut mencatatkan lonjakan kekayaan. Keberhasilan ini juga dirasakan oleh sekitar 400 investor modal ventura yang telah menyuntikkan dana sekitar 40 miliar dollar AS selama dua dekade terakhir saat perusahaan masih berstatus tertutup.
Keuntungan melimpah ini juga akan mengalir ke kantong para investor ritel kecil yang menanamkan modal melalui Special Purpose Vehicle atau SPV, yaitu wadah investasi khusus yang mengumpulkan dana dari pemodal kecil untuk masuk ke perusahaan tertutup. Hanya saja, rumitnya struktur hukum SPV membuat sebagian investor kecil tidak langsung mengetahui nilai pasti keuntungan mereka. Mereka harus menunggu hingga masa penguncian saham selesai beberapa bulan setelah debut pasar perdana ini.