Arab Saudi Tunda Forum Davos in the Desert 2026 Akibat Serangan Houthi

Arab Saudi menunda pelaksanaan forum investasi tahunan Future Investment Initiative atau Davos in the Desert hingga tahun 2027. Keputusan strategis ini diambil pemerintah kerajaan menyusul peningkatan serangan milisi Houthi yang menyasar ibu kota Riyadh.
Serangan udara yang dilancarkan oleh kelompok milisi asal Yaman yang didukung oleh Iran tersebut telah mengenai berbagai infrastruktur vital di pusat pemerintahan.
Berdasarkan pernyataan resmi pada situs FII, ajang yang seharusnya dimulai pada 26 Oktober mendatang ditangguhkan dengan jadwal baru yang akan diumumkan dalam waktu dekat. Penundaan ini menjadi sinyal adanya kendala serius pada stabilitas keamanan di wilayah tersebut.
Chief Executive Officer FII Institute, Dr. Maha Bint Mishari Al Saud, menjelaskan bahwa langkah ini diambil berdasarkan komitmen mendalam terhadap para mitra, pembicara, dan delegasi. Pihak penyelenggara ingin memastikan bahwa edisi kesepuluh ini tetap memberikan dampak yang luar biasa sesuai ekspektasi komunitas global.
Konferensi ini populer dengan julukan Davos in the Desert karena kemiripannya dengan Pertemuan Tahunan Forum Ekonomi Dunia di Swiss yang dihadiri para elit bisnis dunia. Pemerintah Arab Saudi menggunakan forum tersebut sebagai etalase utama rencana investasi ambisius mereka dalam menarik dana asing. Targetnya adalah menghimpun miliaran dolar untuk mendanai transformasi ekonomi agar tidak lagi bergantung pada sektor minyak bumi.
Visi transformasi ini mencakup pengembangan sektor-sektor baru seperti pariwisata, olahraga, hingga teknologi tinggi.
Sejumlah pemimpin bisnis terkemuka dunia sebelumnya telah dijadwalkan untuk hadir dan memberikan pemaparan dalam konferensi tersebut. Nama besar seperti Ruth Porat yang menjabat sebagai Presiden Alphabet dan Google, serta David Solomon selaku CEO Goldman Sachs masuk dalam daftar pembicara utama.
Laurence Fink, Chairman dan CEO BlackRock, juga direncanakan ikut serta memberikan pandangannya mengenai tren ekonomi masa depan. Pembatalan kehadiran para tokoh ini berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap keamanan di Arab Saudi.
Eskalasi pertempuran antara koalisi pimpinan Arab Saudi dan kelompok Houthi, yang juga dikenal sebagai Ansar Allah, terus memanas dalam beberapa pekan terakhir. Milisi tersebut telah menghantam berbagai fasilitas militer, energi, hingga infrastruktur sipil di berbagai penjuru wilayah kerajaan. Serangan ini bahkan sempat menyasar Bandara Internasional Riyadh yang merupakan gerbang utama negara tersebut.
Laporan otoritas setempat menunjukkan setidaknya 18 orang tewas dan ratusan lainnya mengalami luka-luka akibat rangkaian serangan udara yang terjadi.
Situasi keamanan yang tidak menentu ini memaksa sejumlah instansi pemerintah di ibu kota meminta karyawan mereka untuk menjalankan tugas dari rumah. Langkah darurat tersebut diambil guna meminimalkan risiko jatuhnya korban jiwa di area perkantoran pusat.
Gedung pencakar langit Kingdom Centre yang memiliki 99 lantai di pusat kota Riyadh juga memberlakukan pembatasan serupa bagi seluruh staf. Menara ikonik ini merupakan lokasi kantor regional Dana Moneter Internasional atau IMF di kawasan tersebut. Pengelola gedung meminta seluruh pekerja untuk tetap berada di rumah hingga ada pemberitahuan lebih lanjut demi alasan keselamatan.
Pada akhir pekan lalu, seorang pegawai instansi pemerintah di ibu kota menerima instruksi langsung untuk mulai bekerja secara jarak jauh. Instruksi tersebut berlaku sepanjang pekan ini sambil tetap menjalankan aktivitas operasional seperti biasa.
Kebijakan kerja dari rumah turut diterapkan pada perusahaan yang bermarkas di King Abdullah Financial District, lokasi kantor banyak firma besar asal Amerika Serikat. Area distrik finansial ini kini tampak lebih sepi seiring dengan prioritas keamanan yang ditetapkan oleh manajemen perusahaan global.
Penundaan konferensi berskala internasional ini diperkirakan dapat menghambat laju masuknya investasi asing langsung untuk proyek-proyek besar seperti Neom. Neom merupakan proyek pembangunan kota masa depan senilai USD 500 miliar (sekitar Rp8.125 triliun) yang menjadi tulang punggung Visi 2030. Ketidakstabilan kondisi keamanan sering kali menjadi faktor utama yang membuat pemilik modal ragu untuk menanamkan investasi jangka panjang.
Kelompok Houthi mengklaim bahwa serangan mereka merupakan balasan atas campur tangan militer Arab Saudi dalam konflik berkepanjangan di Yaman. Perang saudara tersebut telah berlangsung bertahun-tahun dan mengakibatkan krisis kemanusiaan yang sangat berat di wilayah semenanjung Arab.
Putera Mahkota Mohammed bin Salman sangat mengandalkan kesuksesan Davos in the Desert untuk membuktikan bahwa negaranya telah terbuka sepenuhnya bagi bisnis internasional. Dengan tertundanya ajang ini, otoritas kerajaan menghadapi tantangan besar untuk memulihkan citra stabilitas nasional di mata dunia. Keberhasilan agenda transformasi ekonomi nasional sangat bergantung pada bagaimana Riyadh mengatasi ancaman keamanan dari wilayah perbatasan.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor











