
Milisi Houthi yang didukung Iran terus meningkatkan eskalasi serangan ke wilayah Arab Saudi dengan menargetkan infrastruktur energi serta fasilitas bandara sipil. Situasi keamanan di kawasan tersebut memburuk drastis setelah serangkaian serangan rudal mematikan menghantam fasilitas vital dalam beberapa hari terakhir.
Sebuah serangan rudal di bandara internasional Riyadh pada hari Sabtu menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang lainnya. Selang sehari kemudian, serangan serupa kembali terjadi, menyebabkan satu warga sipil tewas dan 11 orang mengalami cedera.
Houthi juga mengklaim telah melancarkan serangan ke bandara di Dammam serta dua fasilitas minyak utama dalam 24 jam terakhir. Menteri Energi Arab Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman Al Saud, memberikan peringatan keras bahwa tindakan ini merupakan ancaman serius terhadap keamanan energi global dan Riyadh akan memberikan respons yang setimpal.
Berdasarkan laporan dari lembaga pemikir American Enterprise Institute, militer Arab Saudi kini memfokuskan target pada situs peluncuran rudal, fasilitas penyimpanan, hingga infrastruktur militer Houthi di dalam wilayah Yaman. Juru bicara militer Saudi, Turki al-Maliki, mengonfirmasi bahwa 136 target militer telah berhasil dihancurkan dalam operasi udara tersebut.
Namun, intervensi militer yang dipimpin Saudi antara tahun 2015 hingga 2022 belum mampu melumpuhkan kekuatan milisi Houthi secara total. Koalisi internasional yang dibentuk sejak 2015 kini tampak terpecah, terutama setelah Uni Emirat Arab memutuskan untuk menarik mundur pasukannya dari medan pertempuran.
Milisi Houthi saat ini tidak hanya menguasai wilayah utara Yaman, tetapi juga semakin memperluas cengkeramannya di garis pantai barat. Dari posisi tersebut, mereka mampu mengganggu jalur pelayaran internasional di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb, sebuah jalur logistik maritim yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden serta sangat krusial bagi perdagangan dunia.
Pemerintah Saudi kini giat mencari dukungan dari sekutu internasional untuk menghadapi ancaman ini. Inggris dan Prancis telah menjanjikan bantuan militer, mulai dari fasilitas pengisian bahan bakar udara hingga penyediaan teknologi radar dan pertahanan udara guna melindungi terminal minyak Yanbu.
Analis politik dari Sanaa Center for Strategic Studies, Osamah Al-Rawhani, menyoroti adanya pergeseran sikap di Washington terkait dukungan militer terhadap Riyadh. Meski demikian, efektivitas serangan balasan tetap dipertanyakan mengingat besarnya sumber daya keuangan dan komitmen politik yang dibutuhkan untuk mempertahankan wilayah yang telah direbut.
Riyadh sendiri saat ini menghadapi dilema besar dalam kebijakan pertahanannya. Jika biaya perang terus melonjak tinggi, pemerintah mungkin akan mempertimbangkan skenario penarikan diri dari konflik yang berkepanjangan ini.
Marcus Schneider dari Friedrich Ebert Foundation memberikan perspektif bahwa Arab Saudi sebenarnya lebih fokus pada pengurangan kerentanan daripada kemenangan militer mutlak. Houthi, di sisi lain, tidak perlu memenangkan perang konvensional, melainkan cukup dengan menebar ancaman melalui rudal dan drone untuk melumpuhkan stabilitas ekonomi yang dibutuhkan Saudi dalam visi modernisasi Vision 2030.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor