Evernorth Resmi Melantai di Nasdaq, Simpan Aset XRP Senilai Jutaan Dollar

Evernorth, perusahaan penyimpan aset digital yang didukung Ripple, resmi memulai perdagangan di bursa Nasdaq pada Senin dengan kode saham XRPN. Langkah ini memungkinkan investor ritel untuk mendapatkan eksposur terhadap mata uang kripto XRP tanpa harus memiliki dompet kripto secara langsung.
Pencatatan saham ini merupakan hasil final dari merger perusahaan dengan Armada Acquisition Corp. II yang rampung pada Jumat lalu. Armada sendiri merupakan SPAC, yakni perusahaan cangkang yang dibentuk khusus untuk menghimpun dana guna mengakuisisi perusahaan privat sehingga bisa langsung melantai di bursa tanpa melalui proses penawaran umum perdana yang konvensional.
Saat ini, Evernorth tercatat memiliki sekitar 473 juta token XRP serta kas sekitar USD 300 juta (sekitar Rp4,7 triliun). Mengacu pada harga referensi XRP sebesar USD 1,43 (sekitar Rp22.500) per token saat penutupan transaksi, total nilai aset tersebut berada di angka USD 677 juta (sekitar Rp10,6 triliun).
Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan target awal yang dipaparkan Evernorth pada Oktober 2025. Kala itu, mereka menjanjikan dana lebih dari USD 1 miliar untuk mengakuisisi XRP, namun penurunan harga token hingga 40 persen sejak penandatanganan kesepakatan membuat nilai aset tersebut tergerus.
Evernorth memposisikan diri sebagai perusahaan perbendaharaan aset digital atau DAT. Model bisnis ini serupa dengan yang dilakukan Strategy, sebelumnya dikenal sebagai Microstrategy, yang berfokus menghimpun modal untuk mengakuisisi lebih banyak aset kripto dan menyimpannya dalam jangka panjang.
Keberlangsungan model ini sangat bergantung pada rasio nilai pasar terhadap aset bersih, yang dikenal sebagai mNAV. Jika rasio berada di bawah satu, upaya menghimpun dana baru justru berisiko mendilusi nilai saham bagi para pemegang saham yang ada saat ini.
Terdapat dinamika internal yang signifikan di balik peluncuran ini karena mayoritas pemegang saham publik Armada, sekitar 80,3 persen, memilih untuk menarik kembali modal mereka. Mereka menukar saham dengan uang tunai senilai USD 10,58 per lembar, sehingga menarik keluar modal sekitar USD 195 juta dari kesepakatan tersebut sebelum merger ditutup.
Kepergian investor tersebut menyisakan jumlah saham beredar yang sangat terbatas atau sering disebut sebagai float kecil. Hal ini menyebabkan harga saham XRPN menjadi sangat volatil, di mana harga sempat melonjak hingga USD 53 pada 2 Oktober, namun terkoreksi tajam mendekati level USD 16 pada awal perdagangan Senin.
SBI Holdings asal Tokyo kini menjadi pemegang kendali utama dengan porsi 39,9 persen hak suara. Sisa kepemilikan tersebar antara Arrington Capital dan pendiri Ripple, Chris Larsen, yang juga terikat aturan penguncian saham hingga April 2027 untuk menjaga stabilitas harga.
Ke depannya, Evernorth tidak ingin menjadi sekadar penyimpan pasif. Mereka berencana memanfaatkan aset XRP untuk menghasilkan imbal hasil melalui aplikasi keuangan terdesentralisasi, atau DeFi, serta mengoperasikan validator untuk mengamankan jaringan XRP Ledger demi meningkatkan nilai aset per lembar saham.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor













