Fenomena Eksodus Ekspatriat Israel Kembali ke Tanah Air untuk Berikan Suara

Ribuan warga negara Israel yang menetap di luar negeri memutuskan pulang ke tanah air menjelang hari pemungutan suara di tengah persaingan politik yang semakin ketat.
Kepulangan massal ini memicu perdebatan sengit mengenai sejauh mana pengaruh para ekspatriat terhadap konstelasi politik nasional. Banyak pihak mempertanyakan legitimasi keterlibatan mereka dalam menentukan arah kebijakan negara melalui hak pilih.
Kami melakukan perjalanan ke Tel Aviv untuk menemui beberapa pemilih yang baru saja mendarat. Mereka rela menempuh perjalanan udara ribuan kilometer demi menyalurkan aspirasi politik di tengah polarisasi yang memuncak.
Sebagian besar ekspatriat yang kembali mengaku merasa memiliki kewajiban moral untuk ikut menentukan masa depan negara. Mereka berargumen bahwa kebijakan yang diambil pemerintah tetap berdampak langsung pada kehidupan keluarga dan rekan yang mereka tinggalkan di Israel.
Namun, kelompok pengkritik menilai fenomena ini kurang tepat secara etis. Mereka berpendapat bahwa mereka yang tidak menanggung beban pajak maupun risiko keamanan sehari-hari di wilayah tersebut seharusnya tidak memiliki hak suara yang setara dengan warga yang menetap permanen.
Sistem pemilu di Israel memang memberikan peluang bagi warga negara untuk memberikan suara jika mereka hadir secara fisik di tempat pemungutan suara. Berbeda dengan sistem pemilu di beberapa negara lain yang memungkinkan warga di luar negeri mengirimkan suara melalui pos atau perwakilan diplomatik, hukum Israel mewajibkan kehadiran fisik di wilayah kedaulatan mereka.
Bagi para pemilih ekspatriat, harga tiket pesawat yang mahal bukan menjadi penghalang utama. Banyak dari mereka menghabiskan dana hingga USD 1.500 atau sekitar Rp23,5 juta untuk tiket pesawat pulang-pergi agar bisa memberikan suara dalam satu hari pemilihan saja.
Perjalanan ini mencerminkan keterikatan emosional yang masih kuat meskipun mereka telah menetap lama di luar negeri. Bagi warga Israel, isu politik sering kali dianggap sebagai urusan kelangsungan hidup nasional yang melampaui batas-batas geografis tempat tinggal.
Di sisi lain, para analis politik memperingatkan bahwa pengaruh suara dari luar negeri bisa menjadi penentu kemenangan dalam sistem multipartai yang sangat ketat seperti di Israel. Perolehan suara di negara ini sering kali berakhir dengan selisih yang sangat tipis sehingga setiap tambahan suara dari pemilih ekspatriat bisa mengubah komposisi kursi di parlemen atau Knesset.
Knesset adalah lembaga legislatif unikameral di Israel yang memiliki 120 kursi dan memegang kendali atas pembentukan pemerintahan. Keberadaan suara cadangan ini sering kali dimanfaatkan oleh partai-partai besar untuk memobilisasi basis massa mereka yang berada di luar negeri guna mengamankan keunggulan tipis.
Persaingan ketat dalam pemilu kali ini membuat intensitas mobilisasi pemilih meningkat drastis. Berbagai kelompok advokasi bahkan mulai menawarkan subsidi penerbangan bagi pemilih muda yang berada di luar negeri demi memastikan mereka kembali ke Israel untuk memberikan suara pada hari yang telah ditentukan.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)











