Krisis Kemanusiaan Sudan: Perang, Perubahan Iklim, dan Kelaparan Ekstrem

Krisis kemanusiaan di Sudan kian memburuk seiring dengan eskalasi konflik antara Angkatan Bersenjata Sudan atau SAF dengan pasukan paramiliter Rapid Support Forces atau RSF. Perang saudara yang berkepanjangan ini diperparah oleh dampak perubahan iklim dan serangan pesawat nirawak atau drone yang menghancurkan infrastruktur vital.
Pertempuran yang meletus sejak April 2023 telah memaksa jutaan warga mengungsi tepat saat musim tanam berlangsung. Kondisi ini memicu kekhawatiran serius dari berbagai organisasi kemanusiaan mengenai potensi keruntuhan sistem kesehatan nasional secara menyeluruh.
Organisasi Action Against Hunger melaporkan bahwa sekitar 24,6 juta penduduk Sudan kini menghadapi tingkat kerawanan pangan akut yang sangat tinggi. Jan Sebastian Friedrich-Rust dari lembaga tersebut mengungkapkan bahwa jutaan anak serta ibu hamil berada dalam kondisi malnutrisi yang mengancam nyawa mereka di tahun 2026.
Data dari Famine Early Warning Systems Network atau FEWS NET memperingatkan bahwa wilayah seperti Darfur dan Kordofan telah masuk dalam kategori bencana atau IPC Fase 5. Ini merupakan klasifikasi tertinggi dalam sistem klasifikasi keamanan pangan internasional yang menandakan tingkat kelaparan ekstrem.
Fabrizia Falcione dari badan kependudukan PBB menggambarkan situasi di kamp pengungsian Tawila sebagai pemandangan yang sangat memilukan. Ia mencatat bahwa lebih dari 700.000 pengungsi di sana kini hanya bergantung pada satu rumah sakit yang memiliki kemampuan untuk melakukan operasi bedah caesar.
Hingga saat ini, rencana tanggap kemanusiaan Sudan yang membutuhkan dana sebesar USD 2,9 miliar atau sekitar Rp45,8 triliun baru terpenuhi sekitar 41 persen saja. Minimnya pendanaan internasional membuat bantuan medis dan pangan semakin sulit menjangkau warga yang membutuhkan.
Selain ancaman senjata, Sudan kini menghadapi fenomena gelombang panas ekstrem yang menyebabkan pemadaman listrik hingga 12 jam per hari di sejumlah wilayah. Peneliti dari German Institute for Global and Area Studies, Hager Ali, menyebutkan bahwa lahan pertanian yang mengering akibat cuaca buruk semakin memperparah kerusakan akibat taktik perang bumi hangus oleh RSF.
Kelangkaan pupuk dan bahan bakar solar turut menjadi faktor penentu lumpuhnya sektor pertanian di Sudan. Suplai pupuk dilaporkan anjlok drastis dari 450.000 metrik ton menjadi hanya sekitar 50.000 metrik ton akibat terganggunya jalur pelayaran internasional di Laut Merah dan Selat Hormuz.
PBB sebenarnya telah memperpanjang embargo senjata, namun aturan tersebut hanya berlaku terbatas untuk wilayah Darfur. Banyak pihak menyesalkan keputusan ini karena serangan drone kini menjadi penyebab utama jatuhnya korban jiwa di kalangan sipil di seluruh penjuru Sudan.
Ketergantungan RSF pada jaringan penyelundupan senjata melalui milisi lokal dan kontraktor swasta membuat embargo senjata menjadi sulit ditegakkan secara efektif. Sementara itu, SAF terus berupaya mengamankan jalur pasokan resmi mereka dari sejumlah negara pendukung di tengah ketidakpastian kondisi lapangan.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor












