Kunjungan Marco Rubio ke Kolombia: Dorong Pemberantasan Narkoba

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, dijadwalkan melakukan kunjungan resmi ke Kolombia guna mendesak pemerintah setempat memperkuat komitmen dalam pemberantasan perdagangan kokain.
Isu pemberantasan kartel narkoba global dipastikan menjadi agenda utama dalam pertemuan diplomatik tingkat tinggi tersebut. Langkah ini dinilai sensitif mengingat posisi Kolombia sebagai produsen kokain terbesar di dunia yang memasok sebagian besar pasar ilegal di Amerika Serikat.
Pertemuan ini juga menjadi momentum penting bagi hubungan bilateral kedua negara setelah pelantikan presiden baru Kolombia, Gustavo Petro, yang mengusung pendekatan berbeda dalam menangani isu narkotika. Petro sebelumnya mengusulkan reformasi kebijakan dengan beralih dari pendekatan militeristik ke arah rehabilitasi dan penguatan ekonomi petani lokal. Kebijakan baru tersebut sempat memicu kekhawatiran di Washington yang selama puluhan tahun mendanai operasi militer anti-narkoba di negara Amerika Selatan itu.
Menurut laporan dari beberapa pejabat yang mengetahui rencana perjalanan tersebut, Amerika Serikat ingin memastikan bahwa Bogota tidak melonggarkan pengawasan terhadap jalur penyelundupan laut.
Rubio diperkirakan akan membawa data intelijen terbaru mengenai peningkatan produksi daun koka yang mencapai rekor tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Perserikatan Bangsa-Bangsa, luas lahan tanaman koka di Kolombia sempat menyentuh angka 230.000 hektar yang berpotensi menghasilkan ribuan ton kokain murni.
Nilai ekonomi dari bisnis ilegal ini diperkirakan mencapai miliaran dolar AS atau setara dengan ratusan triliun rupiah per tahun. Aliran dana gelap tersebut tidak hanya merusak stabilitas ekonomi Kolombia, tetapi juga mendanai kelompok pemberontak bersenjata yang masih aktif di wilayah pedalaman. Oleh karena itu, Washington memandang kerja sama keamanan ini sebagai pilar utama stabilitas kawasan regional.
"Kami ingin melihat tindakan nyata dan hasil yang terukur dalam operasi penyitaan serta ekstradisi para gembong narkoba," ujar salah satu sumber diplomatik yang menolak disebutkan namanya.
Selama ini, Amerika Serikat telah mengucurkan bantuan militer dan kemanusiaan senilai lebih dari USD 10 miliar (sekitar Rp160 triliun) melalui program kemitraan strategis. Pendanaan masif tersebut dirancang untuk membantu kepolisian dan militer Kolombia menghancurkan laboratorium pengolahan kokain di hutan-hutan terpencil.
Namun, pendekatan baru yang ditawarkan oleh pemerintahan Petro menimbulkan dinamika baru yang cukup rumit. Petro berargumen bahwa perang terhadap narkoba yang mengandalkan kekuatan senjata selama setengah abad terakhir telah gagal total. Ia lebih memilih untuk memberikan insentif agar petani bersedia mengganti tanaman koka mereka dengan komoditas pertanian legal seperti kopi atau cokelat.
Perbedaan paradigma ini yang coba dijembatani oleh delegasi pimpinan Rubio dalam kunjungan kerjanya kali ini.
Rubio, yang dikenal memiliki garis politik tegas terhadap isu-isu di Amerika Latin, diyakini akan menggunakan pengaruh bantuan ekonomi Amerika Serikat sebagai posisi tawar. Beberapa pengamat menilai bahwa pengurangan komitmen dari Kolombia dapat memengaruhi paket bantuan kerja sama keamanan yang diajukan ke Kongres Amerika Serikat.
Di sisi lain, pemerintah Kolombia juga menghadapi tekanan domestik untuk mengurangi kekerasan yang sering kali menyertai operasi pembasmian lahan koka secara paksa. Bentrokan antara aparat keamanan dan komunitas petani lokal kerap terjadi akibat hilangnya mata pencaharian mereka secara mendadak tanpa adanya alternatif ekonomi yang jelas. Situasi sosial yang rentan ini menjadi tantangan besar bagi Petro dalam menyeimbangkan tuntutan sekutu internasionalnya dengan stabilitas dalam negeri.
Delegasi Amerika Serikat juga menaruh perhatian khusus pada peningkatan keterlibatan kartel narkoba internasional asal Meksiko yang kini mengendalikan distribusi kokain dari Kolombia.
Kartel-kartel tersebut memanfaatkan wilayah perbatasan yang lemah untuk menyelundupkan barang haram melalui jalur laut Pasifik dan Karibia. Pengawasan ketat di pelabuhan-pelabuhan utama Kolombia menjadi prioritas yang akan ditekankan kembali oleh Rubio dalam pertemuan tertutup di Bogota.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)










