
Penulis Haiti-Kanada, Thélyson Orélien, akhirnya memecah kebisuannya terkait kontroversi novel terbarunya yang berjudul It Was Either That or Die.
Setelah bungkam selama beberapa pekan, ia membantah keras tuduhan penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam proses penulisan karyanya tersebut. Meski demikian, Orélien mengakui adanya tindakan plagiarisme dalam buku itu.
Tuduhan terhadap Orélien muncul setelah para pembaca dan kritikus sastra menemukan kemiripan narasi yang sangat mencolok dengan karya penulis lain. Kritik ini memicu perdebatan luas di kalangan komunitas sastra mengenai batas antara inspirasi dan pencurian intelektual di era digital.
Pernyataan resmi yang dirilis oleh Orélien menjadi titik balik bagi kariernya yang sempat menjanjikan. Ia menegaskan bahwa gaya penulisan unik dalam novelnya murni hasil pemikirannya sendiri tanpa bantuan algoritma mesin pintar.
Terkait plagiarisme, ia menjelaskan bahwa ada bagian-bagian dalam naskah yang diambil dari karya orang lain tanpa atribusi yang tepat. Namun, ia bersikeras bahwa kekeliruan tersebut bukan merupakan penggunaan teknologi untuk menghasilkan konten secara otomatis.
Plagiarisme sendiri merupakan tindakan mengambil ide, tulisan, atau karya orang lain dan mengakuinya sebagai milik pribadi tanpa memberikan kredit yang layak. Praktik ini dianggap sebagai pelanggaran etika paling berat dalam dunia literasi global.
Dunia sastra kini menghadapi tantangan baru seiring dengan kemudahan akses terhadap perangkat lunak berbasis AI. Alat-alat ini mampu memproduksi teks dalam hitungan detik, yang sering kali menyulitkan pembaca maupun penerbit dalam membedakan antara karya asli manusia dengan hasil olahan mesin.
Kasus Orélien menambah daftar panjang kontroversi penulis di tengah maraknya teknologi otomatisasi. Para pengamat sastra menilai bahwa kepercayaan pembaca menjadi taruhan utama bagi setiap penulis yang namanya tercemar oleh isu integritas seperti ini.
Banyak pihak menuntut transparansi lebih tinggi dari para penerbit dalam memverifikasi keaslian naskah sebelum dilempar ke pasar. Langkah ini dinilai perlu guna menjaga kualitas karya sastra dari degradasi akibat praktik plagiarisme yang kian mudah dilakukan.
Hingga saat ini, belum ada informasi mengenai langkah hukum lebih lanjut dari pihak-pihak yang karyanya terdampak oleh tindakan plagiarisme Orélien. Situasi ini terus dipantau oleh agen literasi internasional untuk menentukan sanksi profesi yang mungkin dijatuhkan.
Kejadian ini menjadi pengingat bagi penulis muda bahwa kreativitas harus tetap berpijak pada kejujuran intelektual. Di tengah gempuran teknologi, orisinalitas tetap menjadi komoditas yang paling berharga dan tak tergantikan oleh alat apa pun.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor