Ketegangan Houthi dan Arab Saudi Meningkat, Pakistan Terjepit Posisi Sulit

Pakistan kini berada dalam posisi diplomatik yang sangat pelik saat konflik antara kelompok Houthi yang didukung Iran dan Arab Saudi kembali memanas di Yaman.
Sebagai mitra pertahanan strategis Riyadh sekaligus kanal komunikasi informal Amerika Serikat dengan Teheran, Islamabad mulai merasakan tekanan hebat untuk menentukan keberpihakan. Situasi ini menguji kebijakan luar negeri Pakistan yang selama ini berupaya menjaga keseimbangan di kawasan Timur Tengah.
Gejolak terbaru di Yaman memicu eskalasi militer yang mengancam stabilitas regional serta kepentingan ekonomi global. Pertempuran sengit di kawasan tersebut menjadi parameter baru bagi Pakistan yang memiliki kedekatan militer dengan Arab Saudi namun memiliki hubungan historis yang kompleks dengan Iran.
Selama setahun terakhir, Islamabad memainkan peran ganda dalam diplomasi kawasan tersebut. Peran ini menempatkan Pakistan sebagai aktor kunci yang menghubungkan kepentingan Washington dengan Teheran, meski tugas ini kian sulit seiring dengan meningkatnya serangan kelompok Houthi terhadap infrastruktur strategis di Arab Saudi.
Pemerintah Pakistan di bawah kepemimpinan saat ini menghadapi dilema yang nyata antara loyalitas kepada sekutu tradisional atau netralitas demi menjaga stabilitas domestik. Arab Saudi merupakan penyedia utama bantuan energi dan pendukung finansial bagi ekonomi Pakistan yang sedang berjuang melawan inflasi tinggi. Sebagai catatan, Arab Saudi sering kali menjadi penopang cadangan devisa Pakistan melalui suntikan dana miliaran dolar untuk menghindari krisis neraca pembayaran.
Di sisi lain, Pakistan harus berurusan dengan batasan geografis dan sentimen internal terkait hubungan dengan Iran. Berbagi perbatasan sepanjang 900 kilometer, stabilitas keamanan di wilayah perbatasan menjadi alasan utama bagi Islamabad untuk tidak memusuhi Teheran secara terbuka.
Analis kebijakan luar negeri menyatakan bahwa Pakistan tidak memiliki ruang gerak yang luas dalam krisis ini. Ketergantungan ekonomi yang besar pada Riyadh memaksa Islamabad untuk lebih proaktif dalam komitmen keamanan, namun hal tersebut membawa risiko diplomatik yang besar di mata Iran.
Ketegangan ini juga memicu kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap harga minyak dunia jika konflik terus merambat ke jalur pelayaran Laut Merah. Apabila eskalasi terus berlanjut, posisi Pakistan sebagai mediator akan semakin terpinggirkan oleh kepentingan kekuatan besar yang lebih dominan dalam memperebutkan pengaruh di kawasan tersebut.
Keberhasilan diplomasi di masa depan akan sangat bergantung pada kemampuan Islamabad dalam menavigasi tuntutan kedua belah pihak tanpa harus mengorbankan kepentingan nasionalnya sendiri. Tanpa strategi yang matang, Pakistan berisiko kehilangan kredibilitas sebagai mediator netral yang selama ini diakui oleh pihak-pihak yang bertikai di Timur Tengah.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)







