Putra Mahkota Arab Saudi Minta Bantuan Militer AS Hadapi Ancaman Houthi

Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, secara resmi meminta peningkatan dukungan militer dari Amerika Serikat pekan lalu. Langkah ini diambil menyusul serangan intensif yang diluncurkan oleh kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman.
Eskalasi konflik ini menciptakan ketegangan baru di kawasan Timur Tengah. Serangan Houthi yang terus berlanjut ke wilayah Saudi telah memicu kekhawatiran serius terkait stabilitas pasokan energi global.
Permintaan bantuan tersebut muncul setelah serangkaian serangan pesawat nirawak dan rudal menyasar infrastruktur minyak Saudi. Bagi pasar energi dunia, gangguan pada produksi minyak Saudi merupakan ancaman nyata yang dapat memicu lonjakan harga komoditas secara drastis.
Harga minyak mentah dunia memang sangat sensitif terhadap dinamika politik di kawasan Teluk. Saat ini, Brent Crude diperdagangkan di kisaran USD 80 hingga USD 90 per barel (sekitar Rp1,26 juta sampai Rp1,42 juta) per barelnya.
Amerika Serikat sebagai sekutu strategis Arab Saudi kini berada dalam posisi yang dilematis. Pemerintah di Washington harus menyeimbangkan antara komitmen keamanan bagi sekutunya dengan upaya meredam eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan tersebut.
Kelompok Houthi sendiri merupakan aktor non-negara yang menguasai sebagian besar wilayah utara Yaman, termasuk ibu kota Sanaa. Sejak tahun 2014, mereka terlibat dalam perang saudara melawan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan didukung oleh koalisi pimpinan Saudi.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)












