Trump Buka Perundingan AS dan Iran Usai Batalkan Serangan Militer

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana perundingan AS dan Iran yang akan dimulai pada Senin waktu setempat, setelah dirinya membatalkan rencana serangan militer besar-besaran. Keputusan pembatalan serangan terhadap Iran ini diambil setelah adanya permintaan dari negara-negara sekutu di Timur Tengah yang meyakini kesepakatan damai dapat segera dicapai.
Trump mengungkapkan bahwa perundingan tersebut akan berfokus pada kesepakatan terkait Selat Hormuz dan program nuklir Iran.
Menurut Trump, para pemimpin dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar mendesak Gedung Putih untuk menahan diri dari tindakan militer sepanjang akhir pekan lalu. Mereka meyakini bahwa draf kesepakatan damai sebenarnya sudah mulai disepakati oleh kedua belah pihak.
Pasar energi global merespons cepat kabar pembatalan serangan militer ini dengan penurunan harga minyak mentah di bursa perdagangan Asia. Harga minyak mentah Brent merosot 4,5 persen menjadi USD 83,98 (sekitar Rp1,36 juta) per barel, sedangkan minyak mentah AS turun 4,6 persen ke posisi USD 80,74 (sekitar Rp1,31 juta) per barel. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran sempit di Teluk Persia yang menjadi rute vital bagi sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dunia.
Meskipun demikian, pihak Teheran membantah klaim sepihak dari Washington mengenai adanya permintaan pembatalan serangan tersebut.
Kantor berita semi-pemerintah Iran, Mehr, menyebut pernyataan Trump tersebut tidak lebih dari sekadar kebohongan baru untuk konsumsi publik. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa pembicaraan damai yang dimediasi oleh Oman terkait Selat Hormuz masih berjalan sesuai rencana.
Saat berbicara di atas pesawat kepresidenan Air Force One, Trump sempat mengeklaim bahwa serangan yang direncanakannya akan menjadi operasi militer terbesar sejak Perang Dunia II. Serangan masif tersebut batal terlaksana karena dia tidak ingin menimbulkan korban jiwa yang masif. Trump juga enggan menjawab pertanyaan wartawan mengenai kemungkinan target serangan yang menyasar fasilitas infrastruktur energi milik Iran.
Sejumlah pakar hukum internasional sebelumnya memperingatkan bahwa serangan terhadap fasilitas energi sipil dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Menanggapi ancaman tersebut, Pelaksana Tugas Menteri Pertahanan Iran Majid Ibn al-Reza menegaskan militer negaranya selalu siap menghadapi segala skenario terburuk. Pihaknya tidak akan pernah lengah atau bersikap pasif dalam menghadapi perang urat saraf yang dilancarkan oleh Amerika Serikat.
Sebelumnya, eskalasi ketegangan sempat mereda ketika Wakil Presiden AS JD Vance memimpin negosiasi langsung dengan perwakilan Iran di Pakistan. Namun, pertemuan bersejarah tersebut gagal menghasilkan kesepakatan jangka panjang untuk menghentikan konflik bersenjata. Ketidakpastian politik ini terus membayangi perekonomian domestik AS menjelang pemilihan umum paruh waktu pada November mendatang.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update
Penulis: Beritana Update
Editor: Beritana Editor










