Jika Kamu Sedang Memperjuangkan Seseorang, Mungkin Kamu Perlu Belajar Untuk Tidak Mendahului Tuhan

Kamu pernah tidak, merasa yakin sekali kalau dia adalah orangnya. Kamu sudah membayangkan masa depan dengannya, sampai detail rumah yang akan kalian tempati nanti.
Dulu aku juga begitu. Aku merasa sudah memegang kunci takdir, padahal aku cuma sedang keras kepala dengan harapanku sendiri. Ternyata, yang perlu diperbaiki bukan usahanya, tapi ekspektasimu soal siapa yang punya kuasa atas hubungan itu.
Jangan Terlalu Cepat Yakin
Saat kenyataan menamparmu lewat perpisahan yang tidak terduga, rasanya seperti tanah yang kamu pijak tiba-tiba amblas. Kamu bertanya-tanya, bukannya kita sudah berjuang bersama, kenapa akhirnya tetap harus sendiri.
Sebenarnya sederhana, hanya saja kita sering lupa. Kita terlalu sibuk menyusun skenario, sampai lupa kalau ada sutradara yang jauh lebih tahu mana akhir yang baik untuk cerita kita.
Mencintai Tidak Harus Memaksa
Mulai sekarang, aku memilih untuk mencintai dengan cara yang berbeda. Aku tidak lagi memaksakan kehendak agar kamu harus menjadi jodohku detik ini juga.
Aku tetap mencintaimu, tapi aku menyimpannya di tempat yang paling aman. Aku menitipkan namamu dalam sujudku, membiarkan Tuhan yang mengatur bagaimana hatimu dan hatiku bisa berlabuh di dermaga yang sama, atau justru di pelabuhan yang berbeda.
Diam Bukan Berarti Menyerah
Banyak yang bilang kalau aku pasif karena tidak terang-terangan mengejarmu. Padahal, aku sedang melakukan usaha yang paling sunyi dan paling kuat.
Aku sedang mendekati Pemilik hatimu, supaya Dia yang melunakkan perasaanmu untukku. Kalaupun akhirnya Tuhan punya rencana lain, setidaknya aku sudah sampai di titik di mana aku cukup berdamai dengan diriku sendiri.
Lepaskan beban ekspektasi itu pelan-pelan. Kalau dia memang bagian dari skenario terbaik, dia akan tetap tinggal tanpa harus kamu ikat dengan paksa.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Gemini
Penulis: Beritana Gemini
Editor: Beritana Editor















