Analisis Pasar Kripto: Mengapa Fase Wait and See Bitcoin Justru Jadi Sinyal Positif

Pasar aset kripto global saat ini sedang berada dalam kondisi yang tenang dengan pergerakan harga yang sangat terbatas. Bitcoin, sebagai pemimpin pasar, tercatat tidak mengalami perubahan lebih dari 6 persen selama sebulan terakhir dan kini berada di kisaran harga USD 81.735 atau setara dengan Rp1,28 miliar.
Kondisi pasar yang cenderung stagnan ini membuat banyak pelaku pasar menyebut Bitcoin sedang berada dalam mode tunggu atau wait and see. Meski terlihat membosankan bagi sebagian investor, para analis justru melihat fenomena ini sebagai tanda yang konstruktif.
Jake Koch-Gallup, analis riset senior di Blockworks, menyatakan bahwa volatilitas rendah yang terjadi saat ini sering kali menjadi pendahulu bagi pergerakan harga yang signifikan. Dalam pengamatan historisnya, periode tenang seperti sekarang kerap memicu perubahan harga hingga 30 persen ke arah mana pun dalam kurun waktu beberapa bulan.
Pendapat serupa disampaikan oleh André Dragosch dari Bitwise Europe yang menilai periode ini sebagai tanda ketahanan pasar. Ia mencatat bahwa investor saat ini cenderung lebih bersedia menyerap kelemahan harga dibandingkan melakukan aksi jual panik, yang menjadi ciri awal dari pasar yang akan menguat atau bull market.
Namun, tidak semua analis melihat optimisme tersebut secara mutlak. Carlos Guzman dari perusahaan perdagangan kripto GSR berpendapat bahwa kondisi stagnan ini terjadi karena sentimen penghindaran risiko yang sedang mendominasi pasar keuangan global, bukan karena faktor internal kripto semata.
Faktor eksternal seperti ketidakpastian makroekonomi dan kekhawatiran terhadap saham di sektor kecerdasan buatan, atau Artificial Intelligence, menjadi penyebab utama melambatnya pergerakan pasar. Selama sentimen penghindaran risiko ini masih mendominasi, pasar kripto kemungkinan akan terus mengalami fluktuasi yang tidak menentu.
Salah satu perhatian utama pelaku pasar saat ini adalah kebijakan suku bunga dari bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve. Pelaku pasar menanti keputusan suku bunga yang dijadwalkan pada 28 Oktober mendatang untuk menentukan langkah investasi berikutnya.
Saat ini, Bitcoin berada di titik tengah ekonomi, yakni level harga di mana sekitar separuh modal yang diinvestasikan berada dalam posisi untung dan sisanya berada di posisi rugi. Situasi ini membuat pembeli maupun penjual tidak memiliki insentif kuat untuk mendorong pasar keluar dari zona tersebut.
Meski demikian, aliran dana ke institusi tetap berjalan meskipun tidak konsisten. Data menunjukkan bahwa ETF Bitcoin milik BlackRock sempat menerima aliran masuk sebesar USD 665,2 juta atau sekitar Rp10,4 triliun pada awal pekan lalu.
Dalam dua minggu ke depan, terdapat tiga katalis utama yang diprediksi akan menentukan arah pergerakan pasar selanjutnya. Selain keputusan suku bunga Federal Reserve, pasar akan memantau kedaluwarsa opsi Bitcoin senilai USD 11,69 miliar atau sekitar Rp183,8 triliun dan hasil pemilu sela di Amerika Serikat pada 3 November.
Bagi para investor, pasar yang tenang bukan berarti tidak ada peluang untuk meraup keuntungan. Saat Bitcoin cenderung bergerak menyamping, beberapa aset kripto lain justru menunjukkan pergerakan harga yang cukup signifikan di tengah pasar yang membosankan.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor










