Analisis Raoul Pal: Aliran Modal Investor Kini Berotasi dari Saham AI ke Kripto

Founder Real Vision, Raoul Pal, melihat adanya perubahan pola investasi global saat ini. Para investor mulai melirik kembali pasar kripto seiring dengan adanya jeda dalam tren kenaikan harga saham berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Pergerakan ini dipicu oleh dinamika likuiditas di pasar keuangan internasional yang masih terbatas. Pal menyebutkan bahwa dolar AS yang kuat dan imbal hasil obligasi yang tinggi menjadi penghambat utama bagi arus modal bebas di pasar aset digital.
"Jika dolar AS melemah, hal itu menjadi lampu hijau bagi pasar kripto untuk bergerak lebih jauh," ujar Raoul Pal dalam sebuah diskusi di program Trade Secrets. Dia menambahkan bahwa dirinya tetap berhati-hati dan belum melihat sinyal lampu hijau penuh untuk seluruh aset kripto saat ini.
Data dari indeks dolar AS memang menunjukkan tren perdagangan di level tertinggi dalam setahun terakhir. Kondisi ini menekan likuiditas sehingga membatasi pergerakan harga aset yang lebih volatil seperti Bitcoin dan altcoin lainnya.
Pal berpendapat bahwa Bitcoin akan kehilangan porsi besar dari aktivitas ekonomi yang dipicu oleh agen AI. Menurutnya, platform smart contract seperti Ethereum dan Solana justru bakal diuntungkan karena adopsi teknis yang lebih masif dari sistem kecerdasan buatan tersebut.
Software berbasis AI kini mulai menggunakan smart contract untuk bertransaksi, termasuk dalam pembayaran konten web menggunakan stablecoin. Amazon Web Services bahkan telah memperkenalkan fitur yang mendukung hal ini sejak bulan Juni lalu.
Mengenai persaingan antara Ethereum dan Solana, Pal tetap memegang pandangan moderat. Meski Solana unggul dalam jumlah alamat aktif harian yang mencapai 3,2 juta pengguna dibandingkan Ethereum yang hanya sekitar 387 ribu, dominasi modal masih tetap berada di ekosistem Ethereum.
Saat ini, nilai total aset yang terkunci atau total value locked (TVL) di protokol keuangan terdesentralisasi Ethereum mencapai USD 54,4 miliar (sekitar Rp848 triliun). Angka tersebut jauh melampaui capaian Solana yang berada di level USD 6,7 miliar (sekitar Rp104 triliun).
Pal menekankan bahwa aktivitas di jaringan Solana saat ini lebih didominasi oleh spekulasi dengan nominal transaksi yang cenderung lebih kecil. Ia menyebut perbedaan ini sebagai kepadatan ekonomi yang membedakan kualitas modal di kedua jaringan tersebut.
Di tengah perdebatan harga, Pal memilih untuk tidak lagi memberikan prediksi nilai aset secara gamblang kepada publik. Baginya, angka Bitcoin mencapai satu juta dolar AS pada masa depan hanyalah sebuah cerminan dari tingkat adopsi pasar yang semakin meluas.
Ia meyakini bahwa keterlibatan institusi melalui produk dana investasi atau ETF serta penggunaan Bitcoin sebagai agunan akan terus menjadi pendorong utama. Proyeksi harga tersebut bukan lagi sekadar target, melainkan refleksi dari evolusi ekonomi digital yang sedang berlangsung hingga tahun 2032 nanti.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor







:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361386/original/062885200_1790718452-spanyol.jpg)

