Anthropic Ingatkan Ancaman AI Worms yang Bisa Serang Perangkat Pintar

Anthropic memperingatkan potensi kemunculan cacing kecerdasan buatan atau AI worms yang mampu menggandakan diri secara otonom dan menginfeksi berbagai perangkat elektronik. Fenomena AI worms ini diprediksi akan menjadi ancaman siber baru yang menyerang perangkat pintar di rumah tangga dalam waktu dekat.
Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat tersebut menyatakan bahwa sistem ini bekerja menyerupai virus komputer konvensional namun memiliki kecerdasan yang lebih tinggi untuk menyebar tanpa campur tangan manusia.
Peneliti William Zhou dan Daniel Freeman dari tim Frontier Red Anthropic merilis laporan yang menyebutkan bahwa target utama serangan ini adalah perangkat sehari-hari. Perangkat tersebut meliputi televisi berbasis Android, peralatan dapur pintar, hingga kamera pengawas yang terhubung dengan internet. Biasanya, perangkat-perangkat ini hanya memiliki daya komputasi dasar dan protokol keamanan yang sangat lemah.
Para ahli memperkirakan bahwa model kecerdasan buatan berukuran kecil hanya membutuhkan waktu beberapa bulan lagi untuk mencapai kemampuan replikasi diri secara penuh. Kondisi tersebut dipandang mengkhawatirkan karena sistem otonom ini akan tersebar luas di perangkat Internet of Things atau IoT tanpa ada titik pusat untuk mematikannya secara serentak.
"Ancaman ini akan sulit dikendalikan karena tidak ada tombol pemutus terpusat yang bisa menghentikan penyebarannya seketika," tulis para peneliti dalam laporan resmi mereka.
Kekhawatiran mengenai kemampuan matematika model AI yang semakin maju juga berdampak langsung pada sektor keamanan aset kripto secara global. Kemajuan ini berpotensi membongkar tanda tangan kriptografi yang digunakan untuk melindungi dompet digital para investor di seluruh dunia. Tanpa adanya pembaruan sistem keamanan, aset digital yang disimpan dalam dompet lama berada dalam posisi yang sangat rentan.
Berdasarkan data pasar terbaru, sekitar sepertiga dari total pasokan Bitcoin di dunia terancam oleh perkembangan teknologi komputasi ini. Angka tersebut setara dengan 6,26 juta BTC, yang jika dikonversi memiliki nilai fantastis melebihi Rp9.000 triliun.
Salah satu pendiri Glassnode, Rafael Schultze-Kraft, menjelaskan melalui sebuah unggahan di media sosial bahwa kerentanan ini banyak ditemukan pada alamat dompet lama. Sekitar 4,33 juta BTC terpapar risiko keamanan karena pemiliknya sering menggunakan kembali alamat dompet yang sama untuk berbagai transaksi. Praktik penggunaan kembali alamat ini dianggap tidak aman dalam protokol blockchain modern karena memudahkan algoritma untuk memecahkan kode kuncinya.
Peneliti dari Ethereum Foundation, Justin Drake, turut menyuarakan peringatan serupa mengenai percepatan kemampuan AI dalam memecahkan algoritma tertentu lebih cepat dari perkiraan awal. Ia merujuk pada standar keamanan Elliptic Curve Digital Signature Algorithm yang selama ini menjaga kerahasiaan kunci privat dompet kripto.
Drake mendesak para pengguna untuk segera memindahkan aset mereka ke alamat dompet baru yang menggunakan standar keamanan lebih mutakhir.
Namun, tidak semua pengamat industri sepakat dengan prediksi suram mengenai masa depan keamanan digital yang diakibatkan oleh kecerdasan buatan ini. Haseeb Qureshi dari perusahaan modal ventura Dragonfly menganggap peringatan tersebut sebagai bentuk ketakutan berlebihan terhadap teknologi kriptografi atau yang ia sebut sebagai cryptographic doomerism. Menurutnya, industri memiliki waktu yang cukup untuk beradaptasi sebelum ancaman tersebut benar-benar menjadi nyata.
Qureshi berpendapat bahwa sekadar memindahkan aset ke alamat baru bukanlah solusi tunggal dalam menghadapi ancaman siber yang terus berkembang. Ia percaya bahwa sistem pertahanan digital akan tumbuh sebanding dengan kemajuan teknologi mesin pintar.
Di Indonesia, ancaman terhadap perangkat IoT menjadi sangat relevan seiring dengan tren rumah pintar yang mulai menjamur di kawasan perkotaan. Badan Siber dan Sandi Negara sering mengimbau masyarakat untuk rutin mengganti kata sandi bawaan pada setiap perangkat yang terhubung ke jaringan internet rumah.
Internet of Things sendiri merupakan konsep di mana objek fisik memiliki sensor dan perangkat lunak untuk berkomunikasi dan bertukar data melalui jaringan nirkabel. Tanpa perlindungan yang memadai, perangkat sederhana seperti lampu pintar atau mesin kopi pintar bisa menjadi celah bagi serangan siber berskala besar. Lemahnya pengawasan terhadap perangkat-perangkat kecil inilah yang diprediksi akan dimanfaatkan oleh AI worms untuk membangun jaringan infeksi yang luas.
Kehadiran AI worms menandai babak baru dalam evolusi kejahatan digital yang tidak lagi membutuhkan perintah manual secara terus-menerus untuk menyebar ke seluruh penjuru dunia.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor






:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372962/original/039475400_1791937692-lisandro_2.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372961/original/091903600_1791937543-lisandro.jpg)


