Apple Kembangkan Penerus Vision Pro, Targetkan Desain Lebih Ringan

Apple tengah memacu pengembangan perangkat realitas virtual penerus Vision Pro untuk memperbaiki catatan performa lini produk tersebut di pasar global.
Proyek pengembangan yang berjalan di bawah kode internal N224 ini kini melibatkan pengujian setidaknya empat konsep rancangan berbeda, sebagaimana dilaporkan oleh laman Gadget.
Salah satu opsi rancangan yang sedang dipertimbangkan adalah memindahkan sejumlah komponen utama ke dalam modul eksternal yang dihubungkan melalui kabel ke perangkat kepala. Skema modular semacam ini sebelumnya telah diadopsi oleh Meta melalui penggunaan perangkat pendukung eksternal atau puck untuk membagi beban sistem pemrosesan, pendingin, dan baterai.
Pengurangan beban perangkat menjadi prioritas utama Apple setelah generasi pertama Vision Pro menerima banyak keluhan dari pengguna terkait bobotnya yang cukup berat saat digunakan dalam durasi panjang.
Pemindahan komponen ke modul eksternal dinilai dapat memangkas bobot headset secara signifikan sehingga meningkatkan kenyamanan pengguna secara teoritis. Meski begitu, konsep tersebut masih memicu perdebatan internal di perusahaan karena muncul kekhawatiran terkait potensi penurunan kenyamanan penggunaan perangkat secara fleksibel.
Selain opsi modular, tim pengembang juga mengeksplorasi penggunaan material alternatif seperti plastik ringan maupun titanium untuk menekan berat fisik kacamata tersebut. Sementara itu, opsi rancangan konvensional yang menempatkan seluruh komponen di dalam headset juga tetap menjadi bagian dari skema pengujian.
Kendati riset berjalan intensif, kepastian peluncuran komersial untuk proyek N224 ini belum ditentukan oleh pihak manajemen Apple.
Jika Apple akhirnya memutuskan untuk membawa perangkat ini ke pasar, proyeksi peluncuran paling cepat diperkirakan terjadi pada akhir 2028 atau 2029.
Saat ini, Apple justru lebih memprioritaskan pengembangan kacamata pintar tanpa layar sebagai produk utama perusahaan untuk beberapa tahun ke depan. Strategi ini menunjukkan pergeseran fokus Apple dalam memenangkan pasar perangkat yang dapat dikenakan atau wearable devices di masa mendatang.
Di pasar Indonesia sendiri, adopsi teknologi realitas virtual kelas atas masih terbatas pada segmen profesional dan penggemar teknologi karena harganya yang tergolong tinggi. Apple harus memikirkan strategi harga yang lebih kompetitif jika ingin menjangkau pasar yang lebih luas di luar Amerika Serikat.
Keberhasilan Apple dalam merancang ulang perangkat ini akan menentukan posisi mereka dalam persaingan teknologi ruang komputasi masa depan yang semakin ramai pemain besar lainnya.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor












