Benarkah Kecerdasan Buatan Mampu Memperbarui Sistem IT Lawas Perusahaan?

Upaya modernisasi sistem teknologi informasi atau IT dalam perusahaan kini kembali menempatkan kecerdasan buatan, atau AI, sebagai solusi utama. Banyak organisasi berharap teknologi ini mampu mempercepat transisi dari sistem warisan yang usang ke infrastruktur modern yang berbasis awan.
Namun, harapan tersebut dibayangi oleh catatan sejarah yang kurang memuaskan dari proyek serupa selama puluhan tahun terakhir. Modernisasi sistem yang kompleks sering kali berakhir sebagai proyek yang memakan biaya besar serta waktu pengerjaan yang jauh melampaui jadwal awal.
Sebuah studi dari Kyndryl mengungkapkan data yang cukup mengejutkan bagi para pengambil kebijakan di level perusahaan. Hanya sekitar setengah dari perusahaan yang menjalankan modernisasi berhasil meningkatkan operasional IT mereka, sementara kurang dari separuhnya yang benar-benar merasakan peningkatan inovasi bisnis.
Sebanyak 18 persen dari responden bahkan mengaku hanya mendapatkan nilai yang terbatas atau tidak jelas dari investasi modernisasi yang telah dilakukan. Kondisi ini menunjukkan bahwa mengganti sistem utama atau mainframe dengan teknologi terbaru tidak otomatis menjadi jaminan keberhasilan transformasi digital.
Kini, perhatian tertuju pada kehadiran agentic AI, sebuah teknologi yang mampu bekerja secara otonom untuk memetakan ketergantungan sistem yang rumit. Agen AI ini dianggap memiliki kemampuan untuk mendokumentasikan proses yang selama ini memakan waktu dan rentan terhadap kesalahan manusia.
Andy Thurai, pendiri The Field CTO sekaligus mantan ahli strategi di IBM, memberikan pandangan skeptis terkait efektivitas ekonomi dari tren ini. Ia menyebut bahwa modernisasi sistem IT di banyak perusahaan kini menyerupai kondisi kronis yang tidak kunjung usai meski telah menggunakan berbagai perangkat lunak baru.
Thurai menyoroti kecenderungan perusahaan yang hanya terus membeli perangkat lunak baru tanpa berani memensiunkan sistem lama yang menumpuk. Alhasil, beban utang teknis atau technical debt tetap membengkak meski teknologi yang digunakan sudah terlihat canggih di permukaan.
Ia juga memperingatkan bahwa AI sering kali dipasarkan oleh vendor sebagai solusi instan untuk segala masalah teknis. Padahal, penggunaan AI yang tidak terkendali justru memicu pembengkakan biaya infrastruktur yang sulit diprediksi oleh departemen keuangan perusahaan.
Tiga dari sepuluh pemimpin bisnis saat ini sudah menyatakan kekhawatiran bahwa modernisasi berbasis AI justru akan berakhir pada lonjakan biaya komputasi yang tidak terukur. Anggaran bulanan bisa berubah menjadi kotak hitam yang menyedot dana perusahaan secara masif.
Terlepas dari berbagai tantangan tersebut, agentic AI memang mulai menunjukkan potensi untuk memetakan dependensi tersembunyi yang selama ini menjadi titik buta teknis. Organisasi yang mengadopsi teknologi ini lebih awal cenderung memiliki progres lebih baik dalam upaya modernisasi dibandingkan mereka yang masih bertahan dengan metode manual.
Pada akhirnya, teknologi yang dianggap canggih saat ini pun akan menjadi sistem warisan di masa mendatang. Siklus modernisasi akan terus berputar ketika generasi teknologi berikutnya hadir menggantikan peran AI dalam menata tumpukan infrastruktur perusahaan.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor










