Cincin Pintar Natura Interface Tawarkan Fitur AI Seharga Rp1,5 Juta

Natura, sebuah perusahaan rintisan teknologi keras, meluncurkan cincin pintar bernama Interface yang dirancang khusus untuk mengoperasikan berbagai asisten kecerdasan buatan langsung dari jari pengguna.
Perangkat cincin pintar seharga USD 99 (sekitar Rp1,5 juta) ini memungkinkan pengguna menyelesaikan tugas harian tanpa perlu menyentuh layar ponsel. Dengan sekali tekan, pengguna dapat langsung memerintahkan asisten digital untuk mencatat ide atau mengirim pesan.
Interface tidak hanya berfungsi sebagai pengendali kecerdasan buatan, melainkan juga dilengkapi sensor pelacak kesehatan. Alat ini mampu memantau detak jantung, variabilitas detak jantung, kualitas tidur, hingga tingkat aktivitas fisik harian. Pengguna bisa mendapatkan visualisasi data kesehatan tersebut melalui aplikasi pendukung yang terhubung di ponsel pintar mereka.
Carlo Edoardo Ferraris, pendiri Natura yang sebelumnya mendirikan merek aksesori teknologi Rolling Square, merancang alat ini demi mengubah cara manusia berinteraksi dengan mesin.
Ia meyakini perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan membutuhkan antarmuka baru yang lebih intuitif layaknya berbicara dengan sesama manusia. Berkat teknologi ini, pengguna dapat mengurangi waktu menatap layar ponsel yang sering kali mengganggu konsentrasi dalam aktivitas sehari-hari.
Pada awal peluncurannya, cincin pintar ini akan langsung terintegrasi dengan berbagai asisten kecerdasan buatan populer seperti Meta's Muse, Instinct, Grok Bot, Claude, dan ChatGPT. Kehadiran teknologi ini diperkirakan memicu tren baru di Indonesia, terutama bagi pekerja digital yang terbiasa menggunakan asisten virtual untuk mempercepat pekerjaan mereka. Kemudahan akses multibahasa juga diharapkan menjadi nilai tambah ketika produk ini dipasarkan secara global.
Sistem pemesanan awal rencananya dibuka bulan depan dengan jadwal pengiriman perdana pada Desember atau Januari mendatang.
Sebelum mengembangkan Interface, Natura sebenarnya telah memproduksi HumanPods yang merupakan perangkat pelantang telinga nirkabel berbasis kecerdasan buatan. Namun, pihak manajemen menyadari bahwa pengguna membutuhkan perangkat yang lebih praktis untuk berinteraksi sepanjang waktu tanpa jeda.
"Seiring berjalannya waktu, kami memahami bahwa pengguna ingin mengakses asisten digital mereka selama 24 jam penuh," ujar Ferraris dalam wawancara bersama TechCrunch. Ia menambahkan, bentuk cincin sangat ideal karena menjadi perpanjangan dari tubuh pengguna yang tidak perlu dilepas saat mandi atau tidur. Fleksibilitas inilah yang membuat Interface dinilai lebih unggul dibandingkan perangkat sandang lainnya di pasar.
Skenario penggunaan cincin pintar ini sangat beragam dan mencakup hampir seluruh aktivitas harian penggunanya.
Saat berolahraga pagi, pengguna cukup memerintahkan cincin untuk mulai merekam aktivitas fisik tanpa menyentuh ponsel. Begitu pula saat berada di kamar mandi dan menyadari persediaan sabun habis, pembelian ulang bisa dilakukan langsung lewat perintah suara.
Bagi pekerja kantoran, alat ini dapat merekam jalannya rapat penting dan langsung mengirimkan ringkasan diskusi ke surel rekan kerja. Semua tanggapan dari asisten digital akan dikirimkan kembali lewat pelantang telinga nirkabel atau notifikasi visual di layar ponsel pintar. Pengguna bahkan dapat menentukan asisten digital spesifik untuk tugas yang berbeda, seperti meminta Claude menulis draf dokumen dan meminta Instinct memesan meja restoran.
Ferraris memproyeksikan bahwa sebagian besar aktivitas komputerisasi di masa depan akan beralih ke perintah suara melalui asisten digital.
Meskipun harga awal ditetapkan sebesar Rp1,5 juta, Natura berencana menaikkan harga jual setelah masa promosi berakhir demi menyesuaikan dengan nilai pasar. Selain itu, pengguna akan dikenai biaya langganan bulanan sebesar USD 9 (sekitar Rp140.000) setelah masa uji coba gratis selama tiga hingga enam bulan selesai.
Biaya produksi cincin ini sebenarnya setara dengan produk premium lain seperti Oura Ring atau Samsung Galaxy Ring karena menggunakan komponen perangkat keras yang mirip. Kebijakan harga murah di awal sengaja diambil demi menarik minat konsumen baru dan mempercepat adopsi teknologi ini secara massal. Langkah ini dipandang cerdas untuk menggeser dominasi merek-merek besar yang telah lebih dahulu menguasai pasar alat kesehatan portabel.
Baterai cincin pintar ini diklaim mampu bertahan selama enam hingga 12 hari tergantung pada intensitas penggunaan sehari-hari.
Untuk pengisian daya hingga penuh, pengguna hanya membutuhkan waktu sekitar 100 menit menggunakan pengisi daya khusus bawaan. Durasi daya tahan baterai yang panjang ini menjadi keunggulan tersendiri di tengah persaingan ketat pasar teknologi sandang global.
Meskipun pasar cincin pintar saat ini didominasi fitur pelacak kesehatan seperti Oura dan Ultrahuman, Interface menawarkan keunikan tersendiri dengan menggabungkan kesehatan dan kecerdasan buatan. Ferraris menegaskan bahwa kombinasi ukuran ringkas, daya tahan baterai luar biasa, serta kemampuan komunikasi AI yang mulus membuat produk mereka tidak tertandingi oleh kompetitor mana pun saat ini. Kehadiran inovasi ini diprediksi akan mengubah peta persaingan industri teknologi sandang dalam beberapa tahun mendatang.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor









