Dampak Kebangkrutan Silicon Valley Bank bagi Pengusaha Minoritas

Kasus kebangkrutan Silicon Valley Bank memicu kekhawatiran baru mengenai akses keuangan bagi pengusaha dari kelompok minoritas di Amerika Serikat. Gelombang penarikan dana massal tersebut membuat para pendiri perusahaan rintisan sempat panik karena terancam kehilangan akses untuk membayar gaji karyawan.
Arlan Hamilton, seorang pemodal ventura perempuan kulit hitam, bergerak cepat membantu para pendiri startup tersebut keluar dari kepanikan.
Sebagai pendiri Backstage Capital yang berpengalaman hampir sepuluh tahun, ia tahu betul keterbatasan opsi pendanaan bagi kelompok minoritas. Lembaga keuangan ini sebelumnya dikenal sangat ramah terhadap komunitas marginal yang sering diabaikan perbankan arus utama. Kegagalan operasional institusi tersebut kini memicu kembali perdebatan tentang diskriminasi penyaluran kredit di industri perbankan.
Silicon Valley Bank berdiri pada 1983 dan sempat menjadi bank terbesar ke-16 di Amerika Serikat pada akhir 2022. Sebelum ditutup oleh regulator pada Maret lalu, institusi ini melayani hampir separuh dari seluruh perusahaan teknologi dan sains yang didukung modal ventura.
"Kami sudah berada di rumah yang lebih kecil dengan pintu yang rapuh, sehingga saat badai datang, kami yang terkena dampak paling keras," ujar Hamilton mengibaratkan posisi pengusaha minoritas.
Data dari Small Business Credit Survey yang dirilis Federal Reserve, sistem bank sentral Amerika Serikat, menunjukkan ketimpangan nyata dalam persetujuan pinjaman. Pada 2021, hanya sekitar 16 persen perusahaan pimpinan warga kulit hitam yang mendapatkan penuh pembiayaan yang mereka ajukan. Angka ini berbanding terbalik dengan perusahaan milik warga kulit putih yang tingkat persetujuannya mencapai 35 persen.
Joynicole Martinez dari lembaga nirlaba Rising Tide Capital mengungkapkan bahwa diskriminasi sistemik dalam dunia perbankan masih berjalan nyata. Ketika lembaga keuangan besar kerap menolak pengajuan kredit mereka, Silicon Valley Bank justru bersedia membuka pintu investasi.
"Kita harus mulai dari fakta bahwa ada rasisme historis dan sistemis dalam dunia perbankan tanpa perlu menutup-nutupinya," kata Martinez.
Bagi pengusaha imigran, tantangan yang dihadapi jauh lebih berlapis karena masalah administrasi legalitas. Mereka sering kali tidak memiliki Nomor Jaminan Sosial atau alamat tetap di Amerika Serikat yang menjadi syarat utama bank besar. Hambatan ini memaksa mereka mencari alternatif pendanaan lain demi mempertahankan operasional bisnis mereka.
Asya Bradley, pendiri beberapa perusahaan teknologi finansial, menceritakan pengalamannya menggalang solidaritas sesama pengusaha imigran pasca-krisis. Mereka saling berbagi informasi mengenai bank regional yang siap menampung akun pindahan dari Silicon Valley Bank.
"Empat bank terbesar menolak kami secara konsisten dan tidak memberikan layanan yang layak, itulah alasan kami memilih bank regional," tutur Bradley.
Empat bank raksasa yang dimaksud adalah JPMorgan Chase, Bank of America, Wells Fargo, dan Citibank. Meskipun demikian, JPMorgan Chase menyatakan telah mengalokasikan 30 persen kantor cabangnya di lingkungan berpenghasilan rendah. Upaya ini merupakan bagian dari komitmen senilai USD 30 miliar atau sekitar Rp460 triliun untuk mendukung komunitas minoritas.
Wells Fargo juga menunjukkan langkah serupa dengan menggandeng Black Economic Alliance untuk meluncurkan dana kemitraan awal sebesar USD 50 juta atau sekitar Rp767 miiar. Selain itu, mereka telah menginvestasikan dana yang sama ke beberapa institusi penyimpanan minoritas sejak pertengahan 2021.
Namun, kekuatan aset bank khusus minoritas ini masih sangat kecil jika dibandingkan dengan raksasa keuangan global.
OneUnited Bank sebagai bank milik warga kulit hitam terbesar di Amerika Serikat hanya mengelola aset sebesar USD 650 juta atau sekitar Rp9,9 triliun. Jumlah ini memang tidak sebanding dengan JPMorgan Chase yang menguasai aset sebesar USD 3,7 triliun atau sekitar Rp56.700 triliun. Ketimpangan neraca keuangan yang mencolok ini membuat jangkauan bantuan mereka menjadi sangat terbatas.
Kondisi sulit ini melahirkan inisiatif mandiri seperti yang dilakukan oleh Backstage Capital dalam menyalurkan modal investasi khusus. Lembaga modal ventura tersebut fokus mengucurkan dana bagi para pendiri dari kelompok perempuan, minoritas, dan kelompok marginal lainnya.
"Saya berharap bank komunitas dan industri teknologi finansial lainnya bersedia mengambil peran agar warisan inklusif dari Silicon Valley Bank tidak hilang begitu saja," harap Bradley.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update
Penulis: Beritana Update
Editor: Beritana Editor













