Data 850 Ribu Jemaat Gereja Terbesar di Korea Selatan Dicuri Peretas AI

Yoido Full Gospel Church, sebuah gereja megah di Seoul yang pernah tercatat dalam Guinness World Records sebagai jemaat terbesar di dunia, baru saja mengalami kebocoran data besar-besaran. Pihak pengelola gereja mengonfirmasi bahwa informasi pribadi milik 850.000 jemaat berpotensi telah dicuri oleh peretas.
Hasil investigasi awal menunjukkan bahwa data yang bocor mencakup nama lengkap serta tanggal lahir. Selain itu, terdapat catatan mengenai perubahan data diri jemaat, seperti ribuan pembaruan nomor identitas kependudukan, nomor telepon, hingga alamat tempat tinggal.
Badan keamanan siber Korea Selatan, KISA, memberikan peringatan kepada gereja tersebut pada Selasa sore setelah mendeteksi adanya akses tidak sah. Sebagai respons, pihak gereja langsung menutup akses luar ke sistem mereka, mengganti kata sandi server, dan mulai mengirimkan notifikasi kepada para jemaat yang terdampak.
Temuan ini bermula dari penelusuran Oasis Security, sebuah perusahaan keamanan siber yang berbasis di luar negeri. Pada September lalu, mereka menemukan data tersebut tersimpan di server asing yang juga menyimpan log serangan serta detail akun yang terhubung dengan Yoido serta gereja besar lainnya di Seoul, yakni Sarang Church.
Sarang Church mengalami kebocoran data yang lebih kecil, yakni mencakup 89.000 catatan jemaat dan 286 catatan karyawan, termasuk data milik pendeta senior. Peristiwa ini diperkirakan terjadi pada bulan Agustus, mendorong pihak gereja membentuk tim tugas darurat dan melapor kepada pihak berwajib.
Analisis dari Oasis Security mengungkapkan adanya jejak aktivitas agen AI sub-agen dalam serangan tersebut. Agen ini merupakan program pembantu yang dijalankan oleh model kecerdasan buatan untuk menangani tugas-tugas spesifik secara terpisah, yang dilengkapi dengan laporan serangan panjang menyerupai tulisan mesin.
Hingga saat ini, pihak gereja masih berupaya memetakan metode yang digunakan peretas untuk menembus pertahanan sistem mereka. Peran spesifik AI dalam intrusi ini pun masih dalam tahap penyelidikan lebih lanjut oleh para ahli forensik digital.
Presiden Lee Jae Myung mengonfirmasi bahwa penggunaan AI diduga kuat menjadi metode baru dalam serangkaian peretasan di Korea Selatan belakangan ini. Sebelumnya, bank komersial seperti Shinhan Bank juga menjadi target, di mana data nasabah berupa pendapatan tahunan hingga batas pinjaman turut terekspos.
Pemerintah Korea Selatan melalui regulator keuangan kini telah membuka inspeksi darurat di lokasi kejadian. Tindakan ini bertujuan untuk menekan angka kerugian yang lebih luas bagi para nasabah perbankan dan masyarakat umum yang datanya terancam.
Pihak Yoido Full Gospel Church menyatakan komitmen untuk memperkuat infrastruktur digital mereka, termasuk mengganti sistem firewall. Firewall sendiri berfungsi sebagai filter keamanan yang memblokir trafik mencurigakan agar tidak bisa masuk ke dalam jaringan internal.
Mereka berencana melibatkan firma keamanan siber profesional untuk memindai celah-celah keamanan lainnya dalam sistem gereja. Langkah ini diambil sebagai upaya pencegahan agar insiden kebocoran data sensitif tidak terulang di masa depan.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor










