
Periode liburan panjang Golden Week di China baru saja berakhir, membawa jutaan warga kembali ke rutinitas harian mereka. Namun, fenomena pergerakan masif manusia ini menyisakan tanya besar mengenai kondisi daya beli domestik di ekonomi terbesar kedua dunia tersebut.
Ya Xi adalah salah satu dari puluhan juta pelancong yang baru saja kembali ke Shanghai menggunakan penerbangan dini hari. Ia mengaku sengaja memilih jadwal tersebut demi mendapatkan harga tiket pesawat yang jauh lebih murah.
Data menunjukkan terdapat 31,19 juta penumpang yang melakukan perjalanan selama periode 13 hari tersebut, yang mencakup Festival Pertengahan Musim Gugur dan Hari Nasional China. Walaupun jumlah pelancong sangat tinggi, pengeluaran per individu tampak jauh lebih moderat dibandingkan ekspektasi pemerintah.
Seorang responden berusia 20-an, Xi, mengungkapkan bahwa ia memangkas anggaran perjalanan tahun ini karena pendapatannya mengalami penurunan. Ia menghabiskan sekitar 5.000 yuan atau setara dengan Rp11 juta hanya untuk tiket pesawat yang menjadi pos pengeluaran terbesar dalam wisatanya.
Golden Week selama ini berfungsi sebagai barometer kesehatan ekonomi China bagi pemerintah di Beijing. Media negara sempat melaporkan rekor 25,204 juta perjalanan kereta api pada tanggal 1 Oktober, namun analisis dari Citigroup justru memperlihatkan volume lalu lintas yang cenderung stagnan.
Tingkat pertumbuhan volume perjalanan selama empat hari pertama liburan tercatat hanya 0,1 persen secara tahunan. Angka ini terpaut jauh dari kenaikan 3,5 persen yang tercatat saat musim liburan Hari Buruh sebelumnya di tahun ini.
Pengamat ekonomi dari Asia Society Policy Institute, Lizzi C. Lee, menilai bahwa konsumen China saat ini menjadi jauh lebih selektif dalam menggunakan uang mereka. Konsumen tidak berhenti berbelanja, tetapi mereka lebih berhati-hati dalam menentukan prioritas pengeluaran untuk barang atau jasa tertentu.
Mereka cenderung berani mengeluarkan uang untuk pengalaman seperti konser, wisata, atau teknologi jika dianggap sepadan dengan harganya. Di luar itu, banyak warga yang memilih melakukan penghematan secara agresif untuk menjaga arus kas pribadi mereka.
Kecenderungan untuk membatasi pengeluaran ini juga didukung oleh pemerintah melalui pemberian kupon senilai 310 juta yuan atau sekitar Rp682 miliar. Peneliti dari Chung-Hua Institution for Economic Research, Guo-Chen Wang, meragukan efektivitas solusi klasik tersebut dalam menghadapi tantangan ekonomi modern.
Masalah mendasar yang terlihat adalah kesenjangan kekayaan yang tajam di masyarakat China saat ini. Banyak ahli berpendapat bahwa rendahnya angka konsumsi bukan disebabkan oleh keengganan warga untuk belanja, melainkan ketidakmampuan finansial akibat terbatasnya tabungan rumah tangga.
Kondisi ini diperparah dengan sektor properti yang masih lesu sejak masa pandemi, sehingga memangkas nilai aset kekayaan masyarakat. Masyarakat kini lebih memilih menunggu diskon besar dan terus berburu nilai guna terbaik dibandingkan melakukan konsumsi impulsif seperti beberapa tahun silam.
Secara regulasi, aturan perjalanan ketat yang berlaku sejak 15 September sempat memicu spekulasi mengenai turunnya minat wisata luar negeri. Meski demikian, data lapangan menunjukkan arus wisatawan ke mancanegara justru tetap tumbuh meskipun dalam skala yang cukup terbatas.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
