Fidelity Sebut Institusi Keuangan Kini Tak Bisa Berpaling dari Aset Tokenisasi

Lembaga keuangan global kini semakin mantap melangkah menuju masa depan berbasis teknologi rantai blok atau onchain melalui inisiatif tokenisasi aset.
Matthew Horne, pimpinan strategi aset digital di Fidelity Investments, menyatakan bahwa pergeseran ini memberikan keunggulan struktural serta membuka akses pasar yang lebih luas dibandingkan produk investasi konvensional.
Dalam diskusi panel di ajang Longitude Singapura pada hari Kamis, Horne menegaskan bahwa dorongan institusi besar untuk mengadopsi teknologi ini dalam 18 bulan terakhir sudah mencapai titik tanpa jalan kembali.
Tokenisasi sendiri merupakan proses mengubah aset nyata seperti obligasi atau saham menjadi token digital yang dapat diperdagangkan di jaringan blockchain. Proses ini memungkinkan transaksi aset dilakukan secara instan, transparan, dan dapat diakses kapan saja oleh investor global.
Data dari platform RWA.xyz menunjukkan tren kenaikan permintaan aset yang ditokenisasi sebesar 41 persen dalam 30 hari terakhir. Jumlah pemegang aset tersebut kini telah melampaui 493.000 entitas, di luar aset stablecoin yang bersifat stabil dan terikat dengan mata uang fiat.
Ka Yan Chan, pimpinan pengembangan bisnis aset digital di UBS, menambahkan bahwa obligasi pemerintah dan ekuitas merupakan elemen kunci yang akan membawa kapital miliaran dolar ke jaringan blockchain. Pihak industri dapat memanfaatkan peluang ini dengan membangun lapisan distribusi yang efisien bagi aset-aset tersebut.
Regulasi di Amerika Serikat juga mulai memberikan dukungan nyata terhadap tren ini. Pada Desember 2023, Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) memberikan lampu hijau kepada anak perusahaan Depository Trust and Clearing Corporation (DTCC) untuk menawarkan layanan tokenisasi pasar sekuritas.
DTCC merupakan lembaga infrastruktur pasar keuangan yang memproses jutaan transaksi efek setiap harinya di Amerika Serikat. Keputusan ini menjadi tonggak penting dalam integrasi teknologi blockchain ke dalam sistem keuangan arus utama.
Tidak berhenti di situ, pada September lalu, SEC memberikan pengecualian sementara yang memungkinkan perdagangan saham Amerika Serikat dalam bentuk token di platform tertentu. Securitize bahkan telah mengumumkan peluncuran perdagangan untuk belasan saham yang paling banyak diminati investor melalui mekanisme token tersebut.
Data dari OnchainBenchmark mencatat bahwa lebih dari USD 1,2 miliar (sekitar Rp18,8 triliun) modal telah berpindah ke jaringan blockchain dalam sebulan terakhir. Total akumulasi aset tokenisasi dan stablecoin kini mencapai angka di atas USD 323 miliar (sekitar Rp5,06 kuadriliun).
Proyeksi masa depan untuk sektor ini terlihat sangat optimistis. Geoff Kendrick dari Standard Chartered memperkirakan bahwa nilai aset dunia nyata yang ditokenisasi dapat mencapai USD 4 triliun (sekitar Rp62,7 kuadriliun) pada akhir tahun 2028.
Adopsi teknologi ini bukan lagi sekadar eksperimen bagi perusahaan manajer investasi di Amerika Serikat. Mereka kini secara aktif mencari cara untuk memindahkan aset ke jalur onchain guna meningkatkan efisiensi operasional dan menjangkau basis investor baru di seluruh dunia.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor







![Microsoft Perkenalkan Port USB-C Magnetik, Mengapa Baru Sekarang? Why did it take so long for someone to make a magnetic USB-C port? [Video]](https://cdn.beritana.com/media/2026/10/why-did-it-take-so-long-for-someone-to-make-a-magnetic-usb-c-port-video.webp)


:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5274523/original/070033900_1751775109-niko.jpg)


